NAIK Pesawat Kertas Bermesin Tempel

NAIK pesawat bermesin tempel? Saya tidak pernah membayangkan atau punya niat sebelumnya. Bukan karena takut ketinggian. Bukan juga karena pesawat ini benar-benar terbuka tanpa penutup.

Tapi, karena kita harus bisa memperhitungkan dengan cermat jarak tempuh yang harus kita lalui dengan stok bahan bakar yang tempatnya sangat terbatas. Salah hitung, bahan bakar bisa habis dan mesin mati di udara!

Pesawat yang saya ceritakan ini adalah jenis pesawat penjelajah jarak pendek yang hanya mampu terbang beberapa ratus meter di atas udara. Bodynya hanya berupa rangka besi. Penutup sayapnya terbuat dari bahan seperti kanvas yang ringan.

Mesinnya adalah mesin tempel dengan baling-baling di bagian belakang kokpit. Kapasitasnya cuma dua orang. Satu untuk pilotnya. Satu lagi untuk penumpang yang dalam kondisi kepepet juga bisa bertugas sebagai co-pilot!

————

UNTUK menerbangkannya tidak perlu landasan khusus yang panjang. Saya bersama seorang instruktur terbang pesawat jenis itu, hanya memanfaatkan sebuah lapangan bola.

Saat awal mencoba, rasanya amazing. Tidak percaya bisa terbang dengan ‘pesawat bo’ongan’ seperti itu. Saya pula yang jadi co-pilotnya!

Kami terbang dari sebuah lapangan bola di daerah Marina – Batam. Saat pesawat mulai terangkat, saya seperti tidak percaya ;

“ Ini beneran bisa terbang?” teriak saya pada sang instruktur saat itu.

“Ya bisa, tidak percaya? Ini kita sudah separuh terangkat. Nanti kita ke arah Barelang”, sahutnya kencang untuk melawan gerungan suara mesin yang persis ada di belakang kami.

Benar saja. Beberapa detik kemudian kami sudah di udara. Instruktur mengontrol arah terbang menggunakan sebuah tangkai tuas yang ada di antara tempat duduk kami. Sementara kecepatan dikontrol melalui sebuah tuas yang ada di ujung kakinya. Tuas yang sama juga ada di ujung kaki saya.

“Kita kemana”, teriak saya.

“Barelang”, jawabnya.

“Bahan bakarnya cukup?”

“Gampang, kalau habis nanti kita mendarat darurat saja!”

Hah, mendarat darurat? Saya tidak pernah membayangkan bakal mendarat darurat dalam penerbangan perdana menggunakan ‘pesawat bo’ongan’ seperti ini.

Di samping saya, Ia terlihat santai saja dan terus memandang ke depan. Wajahnya, sama juga dengan wajah saya terus ditebas-tebas terpaan angin yang kencang.

5 menit perjalanan udara ke arah Barelang, mesin mendadak mati. Saya langsung teriak histeris sementara si instruktur tertawa-tawa. Ternyata bukan masalah pada bahan bakar atau mesin. Tapi saklar mesin memang sengaja dimatikan.

Pesawat bo’ongan yang kami tumpangi kemudian melayang-layang di udara. Pengontrolan hanya dilakukan melalui tuas yang ada di tangannya.

“Saya pernah mendarat darurat di sana”, katanya sambil menunjuk sebuah bukit gundul.

“Mulus?”

Tidak, pesawat ini nyangkut di pohon”.

“Bagaimana menerbangkannya lagi?”

“Saya preteli dulu, kemudian baru dirakit lagi di tanah yang datar”.

Instruktur kemudian menyalakan lagi mesin pesawatnya. Kami terbang berputar-putar selama beberapa menit ke depan hingga mendekati jembatan IV dan mulai melakukan manuver berbalik arah. Saat dalam perjalanan pulang, mesin pesawat mendadak mati lagi.

Tapi kali ini saya tidak teriak histeris. Pasti ulah si instruktur untuk menghemat bahan bakarnya lagi. Tapi kemudian,

“Bahan bakar habis”, teriaknya.

“Hah, bercanda kan”.

“Tidak, kali ini benar-benar habis”,

“ Terus bagaimana ini?”

“Tenang, saya coba hidupkan lagi. Siapa tau masih bisa. Kalo nggak, mendarat dalam posisi mesin mati juga masih aman kok”, teriak sang instruktur sambil melawan terpaan angin yang kuat. Ia meminta saya untuk memegang tuas pengendali.

“Kamu yang pegang kontrol tuas ini”, ujar si instruktur sambil tubuhnya bergerak ke arah belakang untuk mencoba menyalakan mesin.

Saya tidak pernah ikut kursus terbang, termasuk juga menerbangkan pesawat “kertas” seperti ini. Jadi saya hanya melakukan naluri saja untuk mengontrol pesawat yang sedang melayang-layang di udara menggunakan tuas pengontrol. Sementara si instruktur sibuk mengisi bahan bakar kemudian mencoba menghidupkan mesin kembali.

Awalnya saya pede saja mengontrol jalannya pesawat. Tapi begitu pesawat terus mengarah turun perlahan ke bawah, saya mulai khawatir.

Walau pakai naluri sekalipun, saya tidak yakin bisa mendaratkan pesawat kertas ini di tempat yang bagus dengan mulus. Sesekali saya lihat si instruktur yang sedang coba menghidupkan mesin dengan posisi tubuh agak dibalikkan ke belakang.

Yang saya rasakan sepertinya bukan rasa ketakutan. Tapi adrenalin yang bergerak semakin cepat, menegangkan!
Satu menit, dua menit, tiga, empat dan akhirnya, mesin bisa hidup!

Ketinggian kami hanya tinggal seratus meteran saja. Sang instruktur kemudian mengambil alih tuas pengontrol dan mulai melakukan manuver untuk bergerak ke titik awal kami berangkat. Yess!

(*)

Postingan ini pertama kali diunggah pada 1 Desember 2008 di blog lama saya : noesaja.wordpress.com
Bintoro Suryo

About Author /

Admin

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search