Menelusur Nongsa Masa Lalu ; “Tengku H Puang, Kepala Desa Batam dan Makam Raja Isa Yang Tak Diketahui”

DARI atas bukit Puak  ini, terdapat komplek makam sangat tua yang sudah berusia ratusan tahun. Makam tertua tercatat atas nama makam Tengku Han Puang bersama istrinya, Encik Siti Aisyah, bertarikh tahun 1200-an. 

Ini merupakan komplek makam keluarga dari warga yang mendiami wilayah Nongsa saat awal dibuka sebagai pemukiman rakyat ratusan tahun silam. Ada juga makam dua Kepala Desa pertama di pulau Batam di atas bukit itu.

KOMPLEK makam ini terdapat di ujung batas pemukiman rakyat warga Nongsa dengan kawasan yang sekarang dikenal sebagai Nuvasa. 

Dari kaki bukit Tanjung yang terdapat di ujung wilayah Nongsa, kita perlu mendaki, menuruni jejak setapak dan kemudian mendaki kembali. Ada bukit lain di sebelah bukit Tanjung yang jadi lokasi komplek pemakaman ini. 

Kami mengunjungi komplek makam tersebut dengan dipandu salah satu kerabat ahli waris komplek pemakaman. Namanya Safri. 

Safri sehari-harinya melayani aktifitas warga yang ingin menyeberang ke pulau Puteri (sebuah pulau kecil yang menjadi pulau terluar di wilayah ini, pen). Ia adalah cucu dari dari Kepala Desa Batam pertama yang diberi mandat memerintah di pulau Batam berpuluh tahun silam. 

“Itu makam keluarga, yang dimakamkan di sana hanya keluarga dan kerabat kami saja”, kata Safri saat memandu kami menuju lokasi. 

Ada dua jalur sebenarnya yang bisa ditempuh menuju komplek pemakaman tua tersebut. Jalur pertama melalui ujung wilayah pantai Nongsa dengan mendaki terlebih dahulu sebuah bukit bernama Tanjung. 

Jalur kedua berada di sebuah jalan setapak tua yang sudah tidak banyak lagi dilalui warga. Jalur itu berada di sisi belakang bukit Tanjung. Kita akan langsung menemui undak-undakan setapak yang sudah dibuat oleh pihak keluarga untuk menuju komplek makam. 

Sambil mendaki, ia bercerita bahwa hingga dua puluh tahun lalu, warga lebih mengenal komplek makam ini sebagai lokasi pemakaman warga awal yang mendiami wilayah Nongsa di Batam sejak zaman dulu. Tidak banyak yang dimakamkan di sana. Hanya Tengku H Puang dan beberapa kerabat saja sebagai orang yang dianggap membuka kawasan itu ratusan tahun silam.  

“Dulu banyak yang berziarah ke sini. Dari Teluk Mata Ikan, Batu Besar, Kabil hingga pulau-pulau lain. Rata-rata masih kaum kerabat dari warga yang awal-awal mendiami wilayah perairan di sekitar Batam ini”, katanya. 

Walau belum ada akses jalan melalui darat seperti sekarang, hubungan sosial antar warga di sekitar perairan Batam, terjalin melalui jalur laut. Safri tidak menafikan, Nongsa merupakan wilayah strategis dan menjadi tempat pertemuan antar warga di zaman dahulu. 

Jika dilihat, wilayah ini begitu dekat dengan Semenanjung Malaya dan juga Singapura. Terutama wilayah Johor dimana hubungan sosial dan ekonomi sudah terjalin sejak zaman dahulu. 

“Komplek makam yang sekarang sering dikunjungi (makam zuriat Raja Isa, pen) dulu juga sudah ada. Tapi itu merupakan pemakaman umum biasa, tidak begitu diistimewakan. Warga dari keturunan Raja jika meninggal juga dimakamkan di sana”, jelasnya. 

Menemui makam di Bukit Puak ini, harus melewati jenjang anak tangga sepanjang lebih dari 100 meter dikelilingi pepohonan berumur ratusan tahun.

Komplek makam di sini, dikelola oleh zuriat Tengku H. Puang yang terus memegang teguh amanah bahwa hanya keturunan mereka saja yang bisa dimakamkan di komplek pemakaman berusia 800 tahun lebih itu. 

Saat tiba di komplek makam, terlihat ada satu bangunan yang menaungi tiga buah Makam di dalamnya. Disebutkan bahwa itulah makam Tengku Han Puang dan dua istrinya. Salah satunya bernama Encik Siti Aisyah.  

Pada Makam yang berada di dalam bangunan, terlihat dililit kain kuning. Histori Melayu menyebut bahwa kain kuning pada makam merupakan lambang bahwa makam tersebut merupakan makam seorang bangsawan atau bukan orang dari keturunan biasa.

Luas komplek makam tersebut lebih kurang 500 meter persegi. 

Sementara di sekitarnya, ada sekitar 28 makam lain yang merupakan keturunannya. Dua di antaranya adalah makam kepala desa yang memerintah Batam saat pulau ini masih berstatus sebagai desa puluhan tahun silam. Saat itu, Batam masih berinduk ke Belakangpadang sebagai ibukota kecamatannya.  

“Penghulu (Kepala Desa, pen) pertama Batam adalah Kakek saya, ini makamnya”, cerita Safri sambil menunjuk sebuah makam tua yang bersebelahan dengan makam utama namun berada di luar bangunan. 

Di batu nisan tertera nama Mahmud Mahadi. Mahmud Mahadi adalah Kepala desa yang pertama merintis administrasi pemerintahan di Batam saat awal Indonesia mulai merdeka. Ia adalah Kakek dari Safri. 

“Kalau kakek saya ini asal usulnya dari Johor, beristrikan nenek saya asal Penyengat”, kata Safri.

Selain makam kepala desa pertama yang mengelola Batam, ada satu lagi makam yang merupakan makam kepala desa pengganti Mahmud Mahadi. Namanya Abdul Latif. 

Abdul Latif merupakan anak dari Mahmud Mahadi yang mewarisi jabatan kepala desa dari ayahnya juga secara turun temurun. 

 

Dari catatan sejarah, Abdul Latif merupakan kepala desa yang memerintah Batam pada dekade 70-an hingga saat pulau Batam dinaikkan statusnya menjadi sebuah kotamadya administratif sekitar tahun 1983.

“Ini makam paman saya, Abdul Latif. Beliau merupakan kepala desa yang memerintah Batam, pengganti kakek saya. Anaknya (sepupu dari Safri, pen) juga masih ada”, katanya. 

Lazimnya tata pemerintahan desa pada zaman dulu, jabatan kepala desa biasanya dipercayakan kepada tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh atau dituakan. Jabatannya bisa terus berkepanjangan sesuai konsensus bersama warga dan kemudian diwariskan kepada keturunannya.

Orang tua Safri yang merupakan anak dari kepala desa pertama di Batam, Abdul Aziz bin Mahmud  Mahadi (Mahmud Fuang, pen) juga dimakamkan di komplek pemakaman tua ini.

Komplek makam di lokasi ini telah mengalami pemugaran total. Sementara kain kuning yang menutupi batu nisan di makam utama di dalam bangunan, diyakini asli. 

Warga setempat mempercayai banyak misteri yang menyelimuti makam bernama Bukit Puak ini seperti legenda-legenda dan pantang larang.

Bukit Puak sendiri tergolong memiliki dataran cukup tinggi. Lokasinya bersebelahan dengan bukit Tanjong yang sering dikunjungi warga untuk berwisata. 

Suasana di sekitar bukit ini juga tergolong teduh dan asri. Puluhan pepohonan besar berusia puluhan hingga ratusan tahun, tumbuh kokoh di sepanjang kanan dan kiri tangga menuju ke puncak, tempat lokasi pemakaman. Di sebelah bukit ini, terlihat area kawasan wisata Nuvasa yang dipisahkan menggunakan pagar oleh pihak pengelola Nuvasa.

Pemerintah kota Batam sendiri telah menetapkan komplek makam yang satu ini sebagai salah satu cagar budaya di Batam dengan kode inventaris cagar budaya 07/BCB-TB/C/02/2014. 

Nama yang tertera untuk komplek pemakaman tua ini adalah Kompleks Makam Teungku Han Puang.

Kisah Pemindahan Warga Nongsa

DI era pengelolaan Batam oleh Otorita Batam, wilayah ini juga menjalankan fungsi sebagai daerah wisata, selain berfungsi sebagai wilayah alih kapal, logistic base dan daerah industri. 

Batam menjadi daerah tujuan wisata sesuai Keputusan Presiden (Kepres) nomor 15 tahun 1983 tentang kebijaksanaan pengembangan pariwisata tertanggal 9 Maret 1983.

Salah satu tujuan wisata yang dipromosikan adalah kawasan Nongsa dengan luas 3.706 hektar (data arsip Otorita Batam, pen). Konsekuensinya, wilayah Nongsa, sesuai rencana induk, hanya diperuntukkan bagi penampungan kegiatan kepariwisataan dan fasilitas penunjangnya. Seperti misalnya, hotel berbintang, resort dan lapangan golf. 

Pertengahan dekade 80-an, dimulailah proses pemindahan warga asli yang mendiami wilayah Nongsa dan sekitarnya. Saat itu, pemerintah (Otorita Batam, pen) menyiapkan wilayah Sambau sebagai lokasi pemindahan warga yang mendiami di sekitar Nongsa pantai. Pemerintah menyiapkan kaveling tempat tinggal baru. Proses pemindahan berlangsung selama beberapa tahun. 

Bukan hanya pemukiman, pemindahan juga dilakukan untuk fasilitas pendidikan. 

Tercatat, Sekolah Dasar Negeri pertama yang ada di Batam, SDN 001 Nongsa juga ikut dipindahkan dari lokasi awal di Nongsa pantai. Proses pemindahan juga dilakukan terhadap pemakaman umum warga yang ada di Nongsa. 

Tapi, tidak untuk makam-makam tua yang berada di komplek pemakaman Teungku Han Puang di atas bukit tersebut. Komplek makam itu tetap berada di atas bukit seperti yang bisa disimak sekarang. 

Untuk komplek pemakaman baru dan pemindahan makam-makam lama warga di Nongsa pantai, pemerintah menyiapkan satu area pemakaman di wilayah Sambau (komplek pemakaman umum Sambau saat ini, pen). 

Di kemudian hari, beberapa makam tua hasil pemindahan di TPU Sambau, dikembalikan lagi ke lokasi awal di Nongsa pantai. Hal itu seiring dengan kembalinya warga lama Nongsa pantai yang sempat berpindah ke kaveling Sambau di era 80 hingga 90-an silam pada masa setelah reformasi. 

Makam-makam yang kemudian dipindahkan kembali di awal dekade 2000-an lalu itu, kemudian dikenal sebagai bagian zuriat Raja Isa. Pemerintah Kota Batam kemudian juga melakukan upaya pemugaran di kompleks makam tersebut sekitar sepuluh tahun lalu.

Namun tidak semua yang dipindahkan. Beberapa makam tua tanpa nama lainnya, masih banyak terdapat di pemakaman umum Sambau sampai hari ini. Makam-makam tersebut, tidak termasuk yang dipindahkan kembali ke lokasi semula di Nongsa pantai. 

Keturunan Teungku Han Puang dan Tata Pemerintahan Desa Batam, Dulunya 

PULAU Batam pada era lampau, hanya berstatus sebagai satu desa. Di era 1965 – 1983, pulau ini berada dalam lingkup kecamatan Pulau Buluh, Belakang Padang.

Pada saat itu, Pulau Batam hanyalah suatu tempat yang tidak diutamakan, dengan kondisi yang tidak lebih seperti pulau-pulau di pesisir (hinterland) Kepulauan Riau lainnya. Jauh dari fasilitas, sarana, prasarana dan infrastruktur seperti sekarang.

Warga lama dan keturunannya yang kini mendiami kembali wilayah Nongsa pantai, sebagian percaya bahwa orang awal yang merintis wilayah itu sebagai tempat pemukiman di sana adalah Teungku Han Fuang, istrinya Encik Siti Aisyah beserta keturunannya. 

Ada fakta tentang dua kepala desa yang mengurus tata pemerintahan di Batam (saat Batam masih berstatus sebagai sebuah desa, pen) adalah warga di luar zuriat Raja Isa. Yang pertama bernama Mahmud Mahadi dan kedua bernama Abdul Latif. Mereka mewarisi wewenang kepemimpinan mengelola Batam secara turun temurun sejak masa silam. 

Seorang penulis yang juga warga yang sudah mendiami Batam sejak era 70-an, Imbalo Imam Sakti, sempat menulis sebuah catatan. Saat desa Batam dikelola oleh Abdul Latif, warga biasa mengurus dokumen seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau surat pindah ke Nongsa melalui jalur laut. 

“Belum ada jalur darat yang menghubung berbagai tempat di Batam seperti sekarang ini. Jadi ya kemana-mana naik pancung atau sampan”, kata Imbalo. 

“Waktu itu untuk urus surat pindah pula dan buat kartu tanda penduduk, bagi kami yang tinggal di Sei Jodoh harus melapor ke Kepala Desa di Nongsa. 

Kepala Desa kami ketika itu Almarhum Abdul Latif yang rumahnya tinggal di seputaran Pantai Nongsa sekarang. 

Kesana pula harus naik pancung dari pelantar Tanjung Uma. Terkadang pak Kades ini sesekali berkantor di Tanjung Uma,” lanjut Imbalo dalam catatannya ; ‘Desaku yang Hilang’.

Nongsa sebagai pusat pemerintahan desa di Batam pada zaman dahulu, juga diakui oleh keponakan Abdul Latif lainnya, Sofyan.

Ia sempat merasakan saat Nongsa menjadi pusat pemerintahan setara desa untuk pulau Batam dan sekitarnya. Saat itu, orang dari berbagai lokasi di pesisir Batam ( wilayah yang didiami oleh warga saat itu, pen) datang ke Nongsa untuk mengurus dokumen seperti KTP atau surat pindah. Sementara pusat perekonomian yang menjadi tempat transaksi jual beli barang oleh warga berada di sungai Jodoh, dekat Tanjung Uma. 

“Kemana-mana itu ya pakai sampan atau pancung,” kata Sofyan yang kini punya usaha makanan laut di ujung pantai Nongsa, dekat kaki bukit Tanjung tersebut. 

Wilayah Nongsa dan sekitarnya, diketahui mengakhiri masa administrasi pemerintahan oleh kepala desa di masa kepemimpinan Abdul Wahab Madiun. Seorang tokoh masyarakat setempat lainnya yang tinggal di Batu Besar. Sebelumnya, Abdul Wahab Madiun tercatat sempat menjadi ketua Rukun Tetangga (RT) dengan wilayah kira-kira mencakup kelurahan Batu Besar hingga Sambau Nongsa saat ini.

Abdul Wahab Madiun menjabat sebagai Kepala Desa Nongsa saat tata pemerintahan Batam sudah meningkat sebagai Kotamadya di dekade 80-an hingga awal 90-an. Sampai status Nongsa kemudian berubah menjadi kelurahan dan pejabatnya dipegang oleh pegawai negeri. 

Saat kepemimpinannya, wilayah Desa Nongsa sedikit berkurang menjadi setara dengan luas wilayah kecamatan Nongsa ditambah dengan kecamatan Batam Kota saat ini. 

Saat Desa Nongsa di masa kepemimpinan Abdul Wahab Madiun, tata pemerintahannya berada di bawah kecamatan Batam Timur.

Seorang berketurunan Raja yang diketahui sempat menjabat sebagai perangkat warga di wilayah Nongsa pada dekade 70 hingga 80-an diketahui bernama Raja Murad. Raja Murad merupakan seorang ketua Rukun Warga (RW) di wilayah Nongsa. Area wilayahnya saat itu mencakup wilayah seluas kecamatan Nongsa masa kini. 

Asal Mula Nama Nongsa, ceritanya 

BERDASARKAN dokumen sejarah, pada abad ke 18 Lord Minto dan Rafles dari kerajaan Inggris telah melakukan “Barter” dengan Pemerintah Hindia Belanda, sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada Pemerintah Belanda. 

Pada tanggal 18 Desember 1829, Komisaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda P.J Elout yang sekaligus menjabat sebagai Residen Riau atas nama Sultan Abdul Rahmansyah YTM (Yang Dipertuan Muda) Riau menunjuk Raja Isa untuk memegang pemerintahan atas daerah Nongsa dan rantau taklukannya. 

Apakah itu berarti wilayah yang disebut Nongsa sudah berkembang sebagai tempat pemukiman orang dan sudah ada tata pemerintahan tradisional  sebelumnya?

Surat mandat itu sendiri diberikan kepada Raja Isa pada 18 Desember 1829. Seperti yang diketahui, tanggal tersebut, di kemudian hari ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batam.

Dari dokumen sejarah yang diterbitkan, diketahui Raja Isa memegang mandat memegang pemerintahan atas daerah Nongsa dan rantau taklukannya selama tiga tahun saja. Pada tahun 1831, Raja Isa wafat. Namun hingga kini, tidak diketahui dimana makamnya. 

Sebuah arsip pemerintah kota Batam menyebut, Raja Isa sempat tinggal di pulau Nongsa dan di hulu Sungai Nongsa. Pulau Nongsa yang dimaksud di sini adalah sebuah pulau yang terletak di seberang pantai Nongsa yang sekarang. 

“Waktu kecik-kecik dulu, kami tahunya itu pulau Naga, tak tahu kenapa sekarang berubah nama jadi pulau Puteri”, ujar Safri menyebut nama lama pulau yang sekarang dikenal sebagai pulau Puteri tersebut. 

Kemungkinan pulau Naga yang disebutkannya adalah pulau yang sama dengan yang dimaksud dalam arsip pemerintah kota Batam. Sejauh mata memandang dari sisi pantai Nongsa, tidak ada pulau kecil lain di sekitarnya, selain pulau Naga atau pulau Puteri seperti yang dikenal orang saat ini.

Sebelum proses reklamasi oleh pemerintah kota Batam beberapa tahun lalu, pulau Naga atau pulau Puteri hanyalah gundukan daratan kecil dengan batu-batu karang yang akan terpisah menjadi dua bagian saat laut pasang. Bagian tengah pulau akan tenggelam saat air laut sedang pasang. 

“Dulu tak begitu pulaunya, Kecik saja. Yang tengah tu akan tenggelam saat pasang. Tak ada yang tinggal di sana”, katanya sambil menunjuk pulau yang sekarang sudah direklamasi jadi lebih besar tersebut.

Di luar catatan sejarah tentang penugasan Raja Isa untuk memerintah di Batam pada 1829, ada beberapa pendapat tentang penamaan awal wilayah Nongsa di Batam yang didapat dari keterangan dan cerita turun temurun tentang wilayah ini.

Selain cerita yang bersumber dari lisan di pulau Penyengat seperti disampaikan dalam catatan Aswandi Syahri ; Nongsa berasal dari nama timang-timang Raja Isa saat kecil, ‘Nong Isa’. 

Ada juga yang mempercayai cerita lisan lain yang disampaikan turun temurun bahwa nama Nongsa justru diambil dari nama seorang wanita bernama sama ; Nong Isa.

Diceritakan bahwa Nong Isa adalah seorang wanita yang dikenal cantik dan tinggal di wilayah itu, ratusan tahun sebelumnya. Saking terkenalnya, warga dan para pemuda zaman dahulu sering menyebut wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nongsa sebagai ‘Tempat Nong Isa’ saat ditanya jika akan berkunjung ke wilayah ini. 

“Nak kemana?”

“Nak ke tempat Nong Isa”

Begitu ujaran mereka seperti yang diceritakan turun temurun ke warga setempat.

Merujuk dari cerita zuriat Tengku Han Puang tentang salah satu istrinya, Encik Siti Aisyah, apakah mungkin Nong Isa yang dimaksud adalah Encik Siti Aisyah yang makamnya ada di atas bukit Puak saat ini? 

Nong Aisyah, Nong Isyah dan akhirnya lebih mudah dituturkan sebagai Nong Isa?

Apakah wilayah itu sudah bernama Nongsa dan memiliki tata pemerintahan tradisional sendiri sebelum mandat kekuasaan secara umum diberikan kepada Raja Isa pada 1829 sesuai bahan sumber Belanda yang dinukil sejarawan Aswandi Syahri?

Secara etimologi bahasa, sebutan Nong/Neng/Ning di beberapa wilayah di Indonesia, lebih mengacu pada panggilan sayang (nama timang, pen) untuk wanita. 

Seperti halnya di Aceh dengan panggilan ‘Nong’ atau ‘Inong’, di Jawa Barat dan Betawi dengan sebutan ‘Neng’ atau ‘Eneng’ dan di Jawa Timur dengan panggilan ‘Ning’ untuk menyapa wanita secara hormat dari kelas sosial tertentu. 

Wallahu alam. 

Apakah benar Raja Isa tinggal di Nongsa?

DUA buah bahan sumber Belanda dari tahun 1833 [Beknoopte Aantekening over het Eiland Bintang 1833] dan 1837 [Beknopte Aantekening van Het Eiland Bintang Nederlansch Etablissant en Eenige daar toe Behoorende Eilande 1837] yang dinukil dari catatan Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menyebutkan bahwa Radja Issah @ Raja Isa memang tinggal di Nongsa atau pulau Nongsa.

Menurut Aswandi, bahan sumber yang ditulis pada 1833, lebih jauh menjelaskan bahwa Raja Isa berusia sekitar 50 tahun ketika itu, dan kampung kecil tempat ia bersemayam terletak di hulu Sungai Nongsa:

“…Een kort eind het riviertje van Nongsa opgevaren zijnde, komt men aan eene kleine kampong, alwaar zich eenige weinige maleijers afstammelingen van Boeginezen ophouden, en radja Ishak zijn verblijf houdt….”

[ Jika berlayar menghulu di sungai Nongsa itu, kita sampai pada kampung kecil, tempat tinggal beberapa orang Melayu dan peranakan Bugis, serta Raja Ishak bersemayam.]

Mengikut catatan Aswandi, Raja Isa diketahui meninggal di usia 53 tahun. Lantas, dimana makamnya?

Kami kemudian coba menyusuri sungai Nongsa yang dikabarkan dari dokumen di atas, menjadi tempat tinggal Raja Isa pada masa hidup.

Satu-satunya sungai di sekitar Nongsa yang bermuara ke laut, berada di dekat lokasi feri terminal Nongsa Pura saat ini. Tim kemudian mencoba untuk menyusur dari lokasi tersebut. Sungai tersebut bisa dilihat dari sisi jembatan Nongsa di ruas jalan Hang Lekiu, dekat dengan Terminal Fery Nongsa Pura.

Sungai tersebut ternyata merupakan pusat pertemuan sungai-sungai kecil lainnya di bagian hulu. Di sekitarnya ditumbuhi banyak tanaman bakau (mangrove) yang mengakar hingga ke tepiannya.

Pada zaman dahulu, kemungkinan hutan bakau di sini masih sangat lebat dan menutupi hampir seluruh bagian sungai. Kondisi sungai melebar saat ini karena sempat ada kegiatan penggalian pasir di sekitar sungai Nongsa ini beberapa tahun lalu.

“Dulu, sungai itu dalam. Sekarang sudah mulai dangkal,” kata Raja Erwan, keturunan ke-9 Raja Isa dalam sebuah wawancara dengan media tahun 2015 lalu di Batam Centre.

Raja Erwan, Keturunan Ke-9 Raja Isa itu mengatakan, Sungai Nongsa di tahun 1829 itu tidak selebar sekarang. Sungai itu hanya selebar sampan kayu. Namun, abrasi menggerus daratan tepian sungai dari tahun ke tahun.

Catatan kami, ada empat anak sungai lainnya yang mengarah di bagian dalamnya. Sementara jika ditelusuri lebih dalam lagi, empat anak sungai tersebut memiliki 3 percabangan sungai-sungai kecil lagi. 

Sungai utama yang langsung bermuara ke laut, dikenal warga sebagai sungai Pengantin. Sementara anak sungai lain yang merupakan bagian percabangannya, ada yang disebut sebagai sungai Kota dan sungai Awan. 

“Ya, sempat dengar (nama Raja Isa, pen). Dari cerita orang-orang tua zaman dulu, memang di sini (Raja Isa, pen). Tapi cuma kadang-kadang, persinggahan saja. Tidak selalu tinggal di sini,” ujar Ismail, seorang karyawan di Nongsa Pura yang sudah tiga puluh tahun lebih tinggal di wilayah ini ketika ditanya tentang cerita Raja Isa yang pernah ia dengar. Sehari-hari, Ismail bertugas menjaga area wilayah yang dikelola oleh Nongsa Pura, termasuk di sepanjang alur sungai Nongsa. 

“Tempat tinggal warga dari dulu yang ramai ya di pinggir pantai itu”, lanjutnya sambil menunjuk lokasi yang kini lebih dikenal sebagai wilayah pantai wisata rakyat tersebut. 

Namun begitu menurutnya, ada beberapa warga yang diketahui sempat bermukim di sekitar aliran sungai Nongsa ini sampai beberapa puluh tahun lalu. Namun agak jauh ke hulu/ daratan. Lokasinya berjarak beberapa kilometer jika mengikuti alur sungai yang bercabang di bagian dalamnya. 

Jika ditelusuri, lokasi yang disebutkan Ismail adalah daerah di pinggiran anak sungai Nongsa. Di lokasi itu juga ada bekas-bekas pembuatan arang pada zaman dahulu dengan dapur-dapur arangnya. Apakah Raja Isa pernah tinggal di sana selama beberapa waktu?

Lantas, dimana makam Raja Isa sebenarnya? Mengapa terpisah dari makam para zuriat yang disebutkan Safri adalah pemakaman biasa pada masa dahulu? 

Wallahu alam.

(*)

Sumber referensi : 

– Arsip cagar budaya kota Batam

– Salinan Pengukuhan Raja ‘Isa memerintah Nongsa dan rantaunya, alih aksara : Aswandi Syahri

-Tuhfas Al Nafis, Raja Ali Haji.

-Perda kota Batam nomor 4 tahun 2009 tentang hari jadi kota Batam.

– Buku Mengungkap Fakta pembangunan Batam era BJ Habibie

Photo-photo : Bintoro Suryo, Andri Susi, Pardomuan Nainggolan
Bintoro Suryo

About Author /

Admin

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search