Kampung Kupu-kupu dan Sekolah para Intelijen yang Mangkrak

Kumbang Menteduh di Tepi Zaman (Bagian 1)

KELEMBAK, menurut cerita orang-orang lama di kampung ini, berarti kupu-kupu. Lokasinya berada di teluk yang tenang, mengarah ke muara sungai yang airnya payau. Umumnya, masyarakat pesisir tradisional, warga yang tinggal di sana sekarang, adalah keturunan masyarakat yang pernah hidup berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di sekitar wilayah ini. Warganya berkerabat dekat dengan warga terdahulu yang menghuni Nongsa. Satu-satunya lokasi yang mereka sebut berkali-kali sebagai tempat awal nenek moyang mereka, namanya Kumbang Menteduh.


Pagi sekali kami sudah ada di sini. Tujuan kami langsung mengarah ke rumah seorang tetua bernama pak Basri.

“Ada bapak?” tanya saya ke seorang muda di depan kediamannya.

“Ini rumahnya, pak?” tanya Domu.

“Iya, itu dia”, jawab saya sambil menunjuk seorang tua yang bergegas ke luar rumah.

Kami berempat lagi pagi ini. Saya, Domu, Sania dan anak saya Yodha. Bersama pak Basri, kami ingin mengitari teluk Belian, mengunjungi lokasi-lokasi yang pernah didiami warga Batam terdahulu di masa silam.

Ruas jalan masuk ke kampung Kelembak yang sudah disemenisasi. © F. Pardomuan.

“Wah, pagi sekali ya, kenapa tak telepon saya dulu?”, tanya pak Basri berseri. Sepertinya ia baru bersih-bersih, mandi pagi.

“Sudah saya telpon berkali-kali, pak. Tak ada yang jawab”, kata saya.

“Ha, telepon dibawa anak, berarti”, jawab pak Basri tergelak.


DI kampung Kelembak di wilayah Nongsa, Batam, kehidupan warganya yang turun temurun, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Batam, pulau industri yang dulu sepi. Warga di sini masih berkerabat dengan masyarakat pesisir yang mendiami wilayah kampung-kampung di sekitarnya. Seperti kampung Terih, Senggunung, Bakauserip hingga Nongsa pantai.

“Jadi nak ke Kumbang Menteduh tu?”, tanya seorang tua lain yang kami temui di perjalanan menuju muara sungai. Namanya pak Ali, Abang ipar pak Basri. Saya mengenalnya sejak beberapa tahun lalu, saat pertama mengunjungi kampung kupu-kupu ini.

Pak Ali, keturunan pertama Tok Ilyas, orang yang membuka kampung Kelembak. © F. Yodha K. Nusantara

Pak Ali bersaudara, bersama orangtuanya, dahulu, merupakan warga pertama yang membuka perkampungan ini. Secara generasi ke generasi sebelumnya, pendahulu mereka hidup berpindah di sekitar perairan Teluk Belian hingga di pesisir pantai Nongsa yang berhadapan langsung dengan semenanjung Malaya dan pulau Temasek (Singapura, pen).

Kelembak yang dijadikan nama kampung di sini, berarti kupu-kupu dalam sebutan orang-orang Melayu tempo dulu. Cerita pak Ali kepada saya beberapa tahun lalu, kampung ini dinamai Kelembak karena banyaknya kupu-kupu yang hidup di kawasan ini dahulunya.

“Jadi, bapak saya, nama dia Ilyas, buka kampung ini. Kami masih kecik-kecik masa tu. Saya dan saudara beradik, lahirnya di Kumbang Menteduh”, kata pak Ali saat itu.

Salah satu sudut kampung Kelembak dan lokasi kampung Kumbang Menteduh di kejauhan. © F. Bintoro Suryo

Kumbang Menteduh yang disebut pak Ali, merupakan perkampungan kecil orang pesisir Batam tempo dulu. Lokasinya berada di hadapan kampung Kelembak, di perairan teluk Belian. Sampai tahun 1985, lokasi itu masih didiami oleh warga asli Batam, termasuk keluarga pak Ali.

Warga yang mendiami kampung Kumbang Menteduh, biasa berinteraksi secara sosial dengan warga lain seperti di kampung Belian, Senggunung hingga kampung Nongsa melalui jalur laut.

“Dari Kumbang Menteduh tu, mampir lah ke pulau Safar, nanti dia bawa ke sana”, kata pak Madi sambil menunjuk adik iparnya di sebelah kami.

Pulau Safar yang disebut pak Madi, adalah pulau kecil berhampiran kampung ini. Selain lokasi Kumbang Menteduh, pendahulu warga yang mendiami kampung Kelembak saat ini, juga sempat menghuni pulau Safar. Kini, pulau kecil itu hanya dijadikan kebun kelapa oleh warganya. Alam mempengaruhi keputusan mereka untuk hidup berpindah-pindah di masa lalu. Pulau Safar kini, juga dijadikan lokasi pembibitan aneka pohon oleh para aktifis peduli lingkungan. Medio 2023 lalu, sekelompok anak muda dan mahasiswa pencinta alam, mendatangi pulau itu, menanam sekitar 80 bibit pohon.

Saya bersama pak Basri dan Yodha, juga sempat mendatangi terlebih dahulu pulau kecil itu beberapa hari sebelumnya. Letaknya persis berhadapan dengan komplek gedung
International School of Intelligence (ISI). Sebuah komplek sekolah terpadu calon intelijen yang pernah digagas pada zaman pemerintahan presiden Megawati Soekarno Puteri, tahun 2003 silam.

Bangunan sekolah Intelijen tersebut, kini mangkrak sejak hampir 20 tahun lalu. Yang terlihat hanya bangunan-bangunan megah yang tak kunjung diselesaikan. Nasibnya mungkin kurang lebih sama dengan komplek atlet di Hambalang. Yang beda, komplek bangunan yang mangkrak itu, tak se-viral proyek Hambalang.

Sementara di sekitar pulau Safar, rencananya, dibangun sebuah pelabuhan khusus sebagai bagian dari infrastruktur komplek sekolah para calon intelijen itu. Tapi, berbeda dengan bangunan induk komplek sekolahnya, infrastruktur ini urung dibangun sama sekali.

Sedih? Ya. Jika saja proyek itu selesai dan jadi dioperasikan, tentu jadi nilai tambah yang positif bagi Batam.

Saya ikut hadir saat peresmian pembangunannya tahun 2003 silam. Dalam sebuah obrolan bersama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat itu, AM. Hendropriyono, ia menyebut pembangunan sekolah Intelijen internasional digagas di Batam karena letaknya yang strategis dengan dunia internasional.

“Ini akan jadi seperti kawah candra dimuka bagi para calon intelijen”, kata Hendropriyono optimis pada saya dan beberapa rekan media saat itu.

Namun, harapan berbeda dengan kenyataan. Saat rezim pemerintahan berganti, komplek sekolah para intelijen yang digaungkan bakal prestisius nantinya itu, akhirnya mangkrak.

Pembangunan komplek gedung tersebut terbengkalai. Padahal, lahan yang disiapkan dari alokasi Badan Otorita Batam (BP Batam saat ini, pen), disebut mencapai hingga 15 hektar. Kini cuma berisi bangunan-bangunan menua yang tak kunjung selesai dikerjakan.


ALKISAH sekelompok batu yang ada di sana, sering disebut batu berpindah yang mengikuti kisah perpindahan warganya. Mulai dari Kumbang Menteduh, pulau Safar hingga di lokasi sekarang di kampung Kelembak.

Batu berpindah di kampung Kelembak, Nongsa. © F. Pardomuan

“Itu dia batunya, awalnya ada di kampung kami yang pertama, Kumbang Menteduh. Saat kami memutuskan berpindah ke pulau Safar, batu-batu itu tiba-tiba juga berada di sana. Kami masih kecil masa tu”, kata pak Abu, saudara tertua pak Ali yang masih hidup, suatu ketika ke saya beberapa tahun lalu.

https://www.instagram.com/p/B4Sv1ZUhI60/?igsh=MWF2OTZmNDhmcjAyOA==

Pak Abu adalah anak ketiga dari 13 bersaudara keturunan Tok Ilyas. Ia jadi yang tertua dari keturunan orang yang membuka kampung Kelembak saat ini. Menurutnya, saat sang ayah memutuskan untuk berpindah lagi ke lokasi yang sekarang, batu-batu tersebut tiba-tiba muncul di ujung kampung Kelembak.

Ukuran batu yang disebut pak Abu dan pak Ali cukup besar, lebih dari 3 meter dengan tinggi mencapai 2 meter. Saat air laut pasang, baru akan terendam sebagian dengan air laut. Pada saat surut, seluruh permukaan batu bisa terlihat jelas.

Masyarakat setempat meyakini batu tersebut memiliki cerita gaib dari leluhur mereka. Dahulu, saat masih berada di lokasi Kumbang Menteduh, konon batu tersebut berbentuk bundar sempurna, namun kini sudah terbelah.

Kejadian Batu Berpindah dengan sendirinya itu terjadi pertama kali sekitar tahun 1969. Warga di sini tempo dulu meyakini, batu tersebut memiliki bala dan pengaruh negatif, seperti mendatangkan sakit.

“Kami sering sakit dulu waktu kecik-kecik, bapak kemudian berusaha mengusir roh yang ada di batu tersebut”, cerita pak Ali.

Sampai dengan posisinya sekarang di kampung Kelembak, konon, roh di batu ini memohon ampun agar tidak diusir dan berjanji tidak akan ‘mengganggu’ warga.

(*)

Bersambung

Bintoro Suryo

About Author /

Admin

2 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search