Ketam, Kupang dan Keramba Apung yang Jadi Tumpuan

Kumbang Menteduh di Tepi Zaman (Bagian 3 – selesai)

SEPANJANG sejarah di banyak wilayah, ada banyak desa atau kampung pemukiman telah ditinggalkan penduduknya karena berbagai sebab. Epidemi, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, sulitnya sumber makanan dan air serta kebijakan pemerintahnya.


POLA hidup berpindah masyarakat pesisir Kepulauan Riau di masa silam, lebih disebabkan kebutuhan mencari sumber kehidupan seperti makanan dan air serta kebijakan pemerintah karena pembangunan.

Kumbang Menteduh yang kami singgahi ini, sebenarnya cuma berjarak 5-10 menit perjalanan laut saja menggunakan perahu ketinting bermesin. Alam bekerja kembali, membuatnya liar dan alami lagi, sekarang.

“Dari sini, kita masuk lewat bakau-bakau itu. Sudah lebat sekarang karena tak lagi ditinggali orang”, ujar pak Basri begitu kami tiba di Kumbang Menteduh.

Dulunya, perkampungan tua ini sempat ditinggali beberapa belas Kepala Keluarga (KK). Mereka juga berkerabat dengan masyarakat yang tinggal di perkampungan Nongsa pantai dan Senggunung Sambau. Kebanyakan suku asli Melayu. Ada juga pendatang asal Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat.

Umumnya penamaan lokasi oleh masyarakat setempat di Kepulauan Riau, mereka biasa menyebut nama wilayah dari sesuatu yang terlihat sangat awam di sekeliling. Penyebutan Kumbang Menteduh dari beberapa cerita, diambil dari banyaknya jenis kumbang yang bersarang di sana. Secara lisan dan berterusan, orang kemudian menyebut wilayah itu sebagai Kumbang Menteduh, sebuah wilayah yang banyak koloni kumbang membuat sarang.

“Bagus ya namanya, Kumbang Menteduh. Tapi sayang, sekarang tak ada lagi yang tinggal di sini”, kata pak Basri sambil mengarahkan perahunya memasuki perairan yang dipenuhi rerimbunan pohon bakau.

Mereka tinggal dan beraktifitas ekonomi serta sosial dengan bertumpu pada laut di hadapan. Aktifitas mereka memang lebih banyak menggunakan jalur laut. Pesisir pantai, dulunya merupakan pusat perdagangan bagi masyarakat pesisir seperti di Kepulauan Riau. Akulturasi budaya terjadi dari jalur laut. Para pendatang dari Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara hingga daratan Tiongkok datang ke wilayah ini sehingga memunculkan percampuran budaya.

“Saya sebenarnya dari Nusa Tenggara Barat, Sumbawa. Merantau ke sini puluhan tahun lalu. Tinggal pertama di Kumbang Menteduh ini”, cerita pak Basri.

Basri muda kemudian berbaur dengan para penghuni asli Kepulauan Batam seperti keluarga Tok Ilyas yang kemudian jadi mertuanya (baca : Kampung Kupu-kupu dan Sekolah para Intelijen yang Mangkrak). Ia menyatu menjadi keluarga besar tok Ilyas dan ikut pindah ke Kelembak saat kediamannya diminta untuk dikosongkan karena rencana pengembangan yang akan dilakukan Badan Otorita Batam tahun 1986 silam.

“Ada juga (orang) China di sini dulu. Mereka buka kebun atau berdagang. Kalau kami melaut lah”, lanjutnya.

“Dulu itu, orang-orang dari Selayar (Sulawesi Selatan, pen) dan juga kami dari Sumbawa, datang ke sini pakai kapal kayu besar. Kapal-kapal kayunya dulu banyak di Senggunung (Sambau, pen).”, jelasnya lagi.

Perahu ketinting yang kami tumpangi, kemudian makin mengarah ke dalam, di antara rimbun hutan mangrove. Rhizophora apiculata terlihat menjulang di kiri dan kanan. Akar-akarnya saling memeluk di genangan air laut yang dangkal.

“Di sini, dulu seperti pelabuhannya, tempat perahu-perahu kami ditambat”, kata pak Basri, ia kemudian seperti menerawang beberapa puluh tahun ke belakang.

Tinggal di Kumbang Menteduh dengan hutan-hutan bakau di sisi lautnya, melindungi warga di sana dari pengaruh angin kencang dan cuaca buruk yang bisa terjadi kapan saja.

Ikan, salah satu sumber pendapatan dan kehidupan warga pesisir di teluk Belian, Batam. © Bintoro Suryo

Sekarang, Kumbang Menteduh tak ubahnya seperti kawasan hutan bakau yang lebat. Tak ada lagi kehidupan orang di sini. Kami juga cukup kesulitan menerobos pohon-pohon bakau yang mulai menutupi pintu masuk ke kampung tersebur. Lokasi pelabuhan rakyat yang dulu sempat ramai oleh hilir mudik warga penghuninya, mulai berubah jadi belantara pohon bakau (mangrove).


“Waktu Otorita (Batam, pen) ambil kampung kami yang namanya Senggunung, itu Kampung bapak saudara saya yang namanya Yatim, kami minta agar kami bisa kembali ke lahan Datok sebelah mamak, di Terih ini”, ujar pak Seno , seorang tetua di kampung Sei Terih Nongsa kepada kami beberapa waktu sebelumnya.

Pak Seno, tetua warga di kampung Terih, Batam. © F. Pardomuan

Pak Seno mendiami kampung Terih di sekitar teluk Belian sekarang ini. Lokasi kampungnya berdekatan dengan kampung Kelembak. Saat ini, ada sekitar 38 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami kampung Terih tersebut. Beberapa generasi sebelumnya, pendahulu warga yang mendiami kampung itu juga pernah mendiami perkampungan lama, Kumbang Menteduh.

Beberapa tahun ini, kampung Terih lumayan dikenal orang. Tidak hanya di Batam, tapi juga Indonesia. Kampung kecil di pesisir Batam itu, sejak beberapa tahun lalu memang masuk dalam salah satu Kawasan wisata rakyat. Satu yang melekat di kampung ini adalah kuliner lautnya, terutama kuliner ketam atau kepiting yang bahan bakunya langsung diambil dari perairan laut di sekitar kampung tua itu.

Ada dua jenis yang biasanya disuguhkan untuk para tamu yang datang berkunjung ke lokasi ini, ketam jenis rajungan yang dikenal di sini dengan nama ketam renjong serta jenis ketam bakau atau ketam bangkang.

Para nelayan biasanya mendapatkan ketam jenis renjong atau rajungan dari perairan laut di sekitarnya dengan cara memasang bubu atau perangkap. Sementara ketam atau kepiting bangkang diperoleh dari sela-sela hutan bakau. Cara mendapatkannya hampir sama, yakni dengan cara memerangkapnya menggunakan perangkap bubu yang dikenal warga sebagai bubu korea.

Umumnya warga yang tinggal di pesisir Batam sejak zaman dahulu, keluarga besar pak Seno masih berkerabat dengan warga yang tinggal di kampung Kelembak dan Nongsa pantai.

Seorang nelayan dengan bubu Korea untuk menangkap kepiting jenis rajungan yang biasa disebut mereka ketam renjong di kampung Terih, Batam. © F. Pardomuan

Para pendahulu mereka juga menjalankan pola hidup berpindah, dari satu lokasi ke lokasi lain di sekitar pesisir teluk Belian ini. Selain dipengaruhi oleh musim dan cuaca, kedekatan dengan sumber mata pencaharian, menjadi alasannya.

Sejak dahulu, warga di kampung Terih ini menjalankan kehidupan sebagai nelayan laut pesisir. Andalan mereka selain ikan yang melimpah, adalah kepiting. Wilayah perairan teluk Belian, sejak lama memang sudah dikenal sebagai penghasil kepiting laut jenis renjong dan bakau.

“Kalau dulu, mencari ketam renjong di laut tak menggunakan bubu Korea macam ni. Tapi menggunakan jaring yang ada kayunya. Jaring dimasukkan ke laut, kemudian masuklah ketam-ketam tu, tapi jaman dah berubah sejak ada yang mengenalkan penggunaan bubu Korea tu”, kenang pak Seno.


DARI kampung Kumbang Menteduh yang kini sudah ditinggalkan warganya, pak Basri membawa kami berkeliling perairan Teluk Belian. Dari kejauhan, terlihat beberapa perkampungan kecil tradisional orang pesisir Batam yang masih bertahan hingga sekarang.

Selain kampung Kelembak, ada perkampungan warga Dapur Arang Ulu Relai yang dihuni beberapa warga suku laut yang kini sudah hidup menetap. Di sisi lain, terlihat kampung Terih yang seperti terus bersolek sebagai salah satu destinasi wisata rakyat. Atau, kampung Senggunung yang sudah ditinggalkan penghuninya dan kampung Bakauserip di ujung yang lain.

“Nah, itu pak Ali. Mau cari Kupang dia tu”, kata pak Basri sambil menunjuk sebuah perahu ketinting bermotor lain yang mengarah ke perairan Batam Centre.

“Kupang?” tanya saya.

“Ya, kerang-kerang, banyak di Ocarina sana tu”, lanjut pak Basri.

Sejak beberapa tahun belakangan, aktifitas melaut warga di Kelembak makin berkembang. Mereka mulai memburu kerang-kerang yang disebut Kupang saat air laut surut. Kerang Kupang mulai banyak muncul di sekitar perairan Teluk Belian sejak beberapa tahun terakhir.

Fenomena munculnya ribuan kerang kupang itu, bisa dengan mudah ditemui, terutama di sekitar pantai Ocarina. Kerang-kerang itu memiliki postur cangkang yang sama dengan kerang hijau yakni lonjong cekung. Hanya saja yang muncul di perairan ini berwarna cangkang merah hingga kecoklatan.

Tumpukan kulit kerang kupang di kampung Kelembak, Batam. © F. Pardomuan

Layaknya kerang laut lain, kerang ini berada di dasar laut yang menempel di bebatuan laut, terumbu karang hingga semak rumput laut. Untuk mendapatkannya, warga tak perlu jaring atau perahu, karena kerang ini berada di tepian pantai dan bisa dengan mudah diambil saat air laut sedang surut.

“Tantangannya hanya gelombang, itu banyak kapal-kapal Ferry yang melintas, bisa menimbulkan gelombang”, kata pak Basri sambil menunjuk alur pelayaran internasional dari dan menuju pelabuhan internasional Batam Centre.

“Berapa sekilo Kerang Kupang kalau dijual, pak?” tanya Sania.

“Sekitar 30 sampai 40 ribu. Itu sudah dikupas, dibersihkan dulu dan direbus. Biasanya ada pedagang atau warga yang datang untuk mengambilnya”, jawab pak Basri.


ADA kontradiksi di teluk ini. Sisi daratan Batam Centre, terlihat modern. Mulai muncul beberapa gedung tinggi lain selain gedung pemerintah kota dan Badan Pengusahaan Batam. Sementara di seberangnya, beberapa kampung tradisional warga pesisir Batam, berusaha tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Dua remaja di ujung pelantar kayu kampung Terih, Batam. © F. Pardomuan.

“Kita ke sana ya, itu ada keramba jaring apung punya warga, masih saudara juga. Ikannya diekspor selain ada yang dikirim ke restauran-restauran seafood”, ajak pak Basri sambil kemudian mengarahkan perahu ketintingnya menuju sebuah keramba yang terletak di tengah perairan teluk tenang ini.

Keramba yang akan kami tuju, memiliki satu bangunan terapung dengan wadah pembesaran ikan berupa jaring yang diapungkan menggunakan rakit, dilengkapi jangkar atau pemberat di setiap sudutnya. Perangkat terapung itu jadi tempat pemeliharaan ikan yang memungkinkan keluar masuknya air dengan leluasa.

“Iya, naik, naik saja. Aman kok”, kata pak Basri pada kami begitu tiba di salah satu sisinya.

“Yang seperti rumah-rumahan ini untuk apa, pak?” tanya Domu sambil menunjuk sebuah bangunan yang menyatu di rangkaian rakit yang diapungkan itu.

“Untuk penjaganya, kalau tak, habislah ikan-ikan di sini, dicuri orang. Biasanya malam ada yang jaga”, ujar pak Basri sambil terkekeh.

Pak Basri dan Sania di atas keramba jaring apung di perairan teluk Belian, Batam. © F. Bintoro Suryo

Keramba jaring apung menjadi salah satu wadah untuk penerapan budidaya perairan dengan sistem intensif dan terstruktur. Dengan menggunakan jaring apung seperti itu, masyarakat pesisir di perairan ini, ada yang mulai mendiversifikasi cara mereka memanfaatkan sumber laut. Tidak hanya sekedar menangkap menggunakan jaring, tapi juga memelihara dengan konsep budidaya.

Di perairan teluk Belian ini, hanya satu keramba jaring apung modern yang kami temui. Selebihnya, masyarakat pesisir masih menggunakan cara lama dalam memanfaatkan hasil laut. Seperti menebar bubu, atau penggunaan Kelong apung sederhana dengan jaring yang bisa dipindah-pindah.

Dalam perjalanan menyisir perairan teluk ini, kami juga mendapati beberapa remaja yang berburu kerang dan kepiting/ ketam dengan cara menyelam hingga ke dasar laut.

“Itu anak-anak Kelembak, menyelam mereka, cari kerang”, kata pak Basri saat saya menunjuk pada sekelompok remaja dengan perahu kecil, tak jauh dari lokasi keramba jaring apung ditempatkan.

Seketika, saya menatap Yodha, anak saya yang sedang mendokumentasikan gambar video para remaja itu. Yodha sebaya dengan mereka.


KAMI kembali ke titik awal berangkat menuju muara sungai Kelembak. Berbeda dengan saat berangkat, air mulai surut jauh sekarang. Pak Basri cekatan memilih alur yang masih bisa dilalui menggunakan perahu ketintingnya. Sesekali ia mengarahkan perahu ke sisi sungai, kemudian berbelok ke kanan, merapat dekat sekali dengan rerimbunan pohon bakau yang masih cukup lebat di kampung ini.

“Salah lewat, kandas perahu kita nanti”, katanya.

“Jangan lah pak, saya tak mau turun di alur yang berlumpur ini hehe”, sergah saya.

Ketinting kami akhirnya bisa merapat dengan selamat di pinggiran muara, berkat pak Basri yang cekatan. Dari kejauhan, Kumbang Menteduh, kampung awal warga pesisir di sini masih terlihat. Tapi, alam sudah mengubahnya menjadi semula jadi, tanpa sentuhan manusia lagi.

Nun jauh di sisi lain, dinamika Batam yang makin modern, terlihat di wilayah Batam Centre yang kian gemerlap. Berbanding terbalik dengan kampung-kampung warga pesisir asli Batam di sisi hadapannya.

Sekali waktu nanti, kami mungkin akan kembali lagi ke sini.

(*)

Selesai

Bintoro Suryo

About Author /

Admin

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search