Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Humaniora

Rengkam, Suku Laut & Dapur Arang di Tiangwangkang

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 27 Maret 2022
1.3k x dilihat
Sebarkan

DI masa lalu, sampan di wilayah perairan Kepulauan Riau, berasosiasi dengan ruang laut dan berfungsi sebagai alat transportasi sekaligus juga bisa sebagai tempat tinggal. Sampan merepresentasikan institusi ekonomi dan unit terkecil dalam rumah tangga.


KITA mengenal kelompok masyarakat yang merepresentasikan hal seperti itu sebagai ‘orang sampan’. Ada juga yang menyebut mereka sebagai ‘orang Bajo’ atau ‘orang Tambus’.

Saya dan beberapa rekan mengunjungi kawasan yang banyak didiami oleh orang sampan di Batam beberapa waktu lalu. Berbeda dengan representasi mereka pada masa lalu, kini mereka hampir sama dengan warga yang lain.

Sudah menetap, bersosialisasi secara luas dan yang lebih penting, mereka telah memiliki keyakinan/kepercayaan sebagai pedoman dalam mengarungi hidup.

Tiangwangkang adalah sebuah kampung kecil di ujung Batam, dekat jembatan I Barelang. Dulunya, kampung yang dihuni sebagian besar suku laut itu, adalah pulau tersendiri. 

Proses reklamasi dilakukan untuk membuka keterisolasian warga di sini sehingga bisa terhubung melalui jalur darat dengan Batam sekitar tahun 2005 lalu.

“Awalnya, hanya kami sekeluarga saja dari suku laut yang mendiami wilayah ini, kakek kami yang mengawali untuk hidup di darat sini”, kata Amos, seorang suku laut yang kini menjabat sebagai ketua RT di kampung Tiangwangkang saat disambangi kami.

Perkembangan kemudian, kampung Tiangwangkang dihuni oleh tujuh kepala keluarga (KK) yang menjadi cikal bakal penduduk suku laut yang berkembang sekarang.

Sebagian besar warga di sini adalah suku laut yang akhirnya memilih hidup menetap setelah turun temurun menjalani kehidupan secara nomaden di sekitar perairan Kepulauan Riau. 

Sejak memutuskan hidup di darat, suku laut di sini mulai belajar mengenal kebiasaan dan budaya lain selain yang mereka ketahui sebelumnya. Begitu juga dengan kepercayaan agama yang dianut.

Sebelum memiliki agama, ucap Amos, dulu Suku Laut memiliki kepercayaan animisme pada benda-benda atau hal yang dianggap gaib atau keramat. 

Tempat-tempat keramat itu oleh leluhur suku laut biasanya diberi tanda bendera kecil berwarna kuning. 

Seiring perkembangan zaman, budaya animisme Suku Laut yang tinggal di Tiangwangkang pun memudar. Jika dulunya mereka menyembah tanjung, pohon maupun batu, kini Suku Laut sudah menyembah Tuhan. 

Di kampung ini, ada sebuah Dapur Arang tempat pembakaran kayu bakau dan kapal tua yang tenggelam. Keduanya jadi peninggalan leluhur mereka saat pertama kali memilih untuk menetap di darat dan memulai budaya serta kepercayaan baru.

“Dapur arang itu masih saya kelola, tapi hanya setahun sekali bakarnya. Sekali bakar 4 ton”, kata Amos sambil menunjuk sebuah dapur arang tua yang berada tak jauh dari kediamannya.

(*)

Photo cover : Kampung Tiangwangkang di Batam, © Photo udara : Pardomuan 
Videography : Bintoro Suryo, Indra Fabio, Pardomuan 
Co Host dalam Cerita : Hadis Hamzah 
KAITAN:BATAMDapur arangrengkamsuku lautTiangwangkangvideo
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Tiap Anak Mencari Sosok Jagoannya Sendiri (Greatest Love of All)
Artikel Selanjutnya Diet Puasa, Pilihan untuk Turunkan Berat Badan dengan Cepat
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
181 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
211 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
302 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
372 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
405 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
3k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.4k x dilihat

Ragam Tanaman di Kebun Raya Batam

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?