Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Cerita

Berburu Ketam Sei Terih Yang Mulai Langka

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 11 April 2022
1.8k x dilihat
Sebarkan

KAMPUNG Terih beberapa tahun ini lumayan dikenal. Tidak hanya di Batam, tapi juga di Indonesia. Kampung kecil di pesisir Batam itu, sejak beberapa tahun lalu memang masuk dalam salah satu Kawasan wisata rakyat. Satu yang melekat di kampung ini adalah kuliner lautnya, terutama kuliner ketam atau kepiting yang bahan bakunya langsung diambil dari perairan laut di sekitar kampung tua itu.


Ada dua jenis yang biasanya disuguhkan untuk para tamu yang datang berkunjung ke lokasi ini, ketam jenis rajungan yang dikenal di sini dengan nama ketam renjong serta jenis ketam besar atau ketam bangkang. Para nelayan biasanya mendapatkan ketam jenis renjong atau rajungan dari perairan laut di sekitarnya dengan cara memasang bubu atau perangkap. Sementara ketam atau kepiting bangkang diperoleh dari sela-sela hutan bakau.

Cara mendapatkannya hampir sama, yakni dengan cara memerangkapnya pakai perangkap bubu yang dikenal warga sebagai bubu korea. Rajungan yang biasa diburu warga di kampung ini merupakan sejenis kepiting yang hidup di laut. Jenis itu biasanya ditemukan di wilayah pantai yang dangkal. Habitat hidupnya biasa ditemukan, terutama di perairan Samudera Pasifik bagian barat hingga di Asia dan sekitaran selat Malaka, termasuk juga perairan Kepulauan Riau. Rajungan merupakan salah satu jenis kepiting yang populer dimanfaatkan sebagai sumber pangan dengan harga yang cukup mahal.

Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan beberapa sebutan seperti flower crab, blue crab, blue swimmer crab, dan blue manna crab.

Rajungan lebih suka tinggal terkubur di bawah pasir atau lumpur, khususnya selama siang hari dan musim dingin. Ia merupakan hewan yang merupakan perenang yang sangat baik, sebagian besar karena sepasang kaki pipih yang menyerupai dayung. Namun, berbeda dengan kepiting bakau atau ketam bangkang -penyebutan di beberapa kalangan masyarakat nelayan Kepri- rajungan tidak dapat bertahan untuk waktu yang lama jika keluar dari air.

Ketam bangkang atau kepiting bakau biasanya berukuran lebih besar dari kepiting jenis rajungan atau renjong. Hewan yang satu ini biasanya terdapat di sekitar pantai dekat hutan-hutan bakau yang rimbun. Berbeda dengan rajungan yang cenderung memiliki corak dan brwarna kebiruan, ketam atau kepiting bangkang atau bakau berwarna lebih gelap dan memiliki daya tahan untuk hidup lama di luar air laut. Permintaan pasar yang tinggi ditambah dengan harga yang menguntungkan, telah menyebabkan eksploitasi yang intensif terhadap sumber daya kepiting jenis rajungan dan juga bangkang di Indonesia, khususnya di Kepulauan Riau.

Sejauh ini, produksi kepting jenis rajungan dan bangkang masih mengandalkan penangkapan dari alam. Pada banyak wilayah, hal ini telah mengakibatkan tingkat produksi yang stagnan, bahkan di beberapa lokasi cenderung menurun. Hasyim, seorang nelayan pencari ketam atau kepiting di kampung Sei Terih menyebut keberadaan ketam jenis renjong atau rajungan dan ketam bangkang atau bakau di wilayahnya memang tidak sebanyak dahulu lagi.

Kondisi laut yang tidak sama seperti puluhan tahun lalu karena maraknya pembangunan serta makin sedikitnya habitat hidup hewan-hewan tersebut di sekitar hutan-hutan bakau menyebabkan populasinya tidak banyak lagi. Penangkapan dengan intensitas besar oleh nelayan untuk memenuhi permintaan pasar, juga menyebabkan populasi ini sulit berkembang dengan cepat sekarang.

(*)

Videography : Pardomuan, Febby Fachrian, Usvim Varadilla

KAITAN:crabkepitingketamvideo
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Mereka Menua Secara Alami
Artikel Selanjutnya Konflik Monyet dan Manusia di Batam, dari Ambil Makanan sampai Masuk Bandara
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
182 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
214 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
306 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
383 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
408 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
3k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.4k x dilihat

Ragam Tanaman di Kebun Raya Batam

Oleh Bintoro Suryo
2.4k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?