Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Lingkungan

Kisah Otto Soemarwoto Pilih Bela Ekologi Indonesia di Era Soeharto | Peringatan Hari Bumi

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 23 April 2022
1k x dilihat
Sebarkan

Berbicara soal ekologi, maupun Hari Bumi, khususnya di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari Otto Soemarwoto, seorang pemikir dan pendekar Lingkungan Hidup.


DILANSIR dari Buku Otto Soemarwoto: Pemikir dan Pakar Ekologi Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo pada tahun 2019, perjuangan Soemarwoto sudah dimulai sejak 1960-an, ketika pepohonan di bukit dan lembah kawasan Bogor, Puncak, Cipanas, dan Cianjur berubah menjadi vila mewah yang akan mendatangkan petaka bagi Jakarta.

Hutan di sepanjang jalan tidak lama kemudian menyusul berganti menjadi warung-warung. Jalanan yang macet disesaki kendaraan ikut membuat suasana pengap di Kawasan ini.

Pada 1970-an, Soemarwoto juga sudah mengingatkan bahaya green gold rush, atau pembalakan hutan secara besar-besaran dan ugal-ugalan.

Menurutnya, aktivitas ini akan menimbulkan banjir dan tanah longsor di musim penghujan, dan keringnya mata air di musim kemarau.

Melihat fenomena ini, Soemarwoto, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Kebun Raya Bogor sudah memperkirakan kerusakan lanskap Kawasan tersebut dan dampaknya bagi Jakarta. Soemarwoto sering melontarkan kritiknya melalui media.

Soemarwoto mendesak lingkungan hidup sebagai prinsip dasar pembangunan negeri ini. Tetapi, pemerintah justru membuat kebijakan yang sifatnya insidental dan dampak yang dangkal. Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menjadi sasaran kritik Soemarwoto ketika niatnya ingin membangun lahan parkir di atas Sungai Ciliwung.

Bahkan, Soeharto, melalui Menteri Pariwisatanya pada masa itu, menyampaikan pada Soemarwoto bahwa kritiknya soal puncak dan kemacetan membuat Soeharto marah.

Berikutnya: Akibat kepentingan yang berbenturan…

Akibat kepentingan yang berbenturan antara Soemarwoto dengan kekuasaan, ia kemudian mendapat julukan tokoh pewayangan, Bratasena. Meskipun demikian, Emil salim, Menteri lingkungan hidup, belajar darinya.

Upaya yang dilakukan oleh Soemarwoto ini adalah sesuatu yang berevolusi. Semua akan membuahkan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitar. Karena hanya dalam lingkungan hidup yang baik, manusia bisa berkarya dengan optimal.

Ketertarikan Soemarwoto pada ekologi, khususnya ekologi lingkungan, membuatnya mendirikan Lembaga Ekologi Unpad pada 23 September 1972, ketika ia pindah dari Bogor ke Bandung pada 1972 dan ditawari menjadi guru besar Tata Guna Biologi Universitas Padjadjaran. Lembaga ini menjadi Lembaga pertama yang fokus pada isu lingkungan dan didirikan oleh institusi Pendidikan tinggi di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman, Lembaga ini berganti nama menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Soemarwoto kembali ditunjuk menjadi Kepala dan bekerja disana selama 20 tahun. Melalui Lembaga ini, muncul pendekatan multidisiplin berbasis ilmu lingkungan hidup yang terus dikembangkan. Diantaranya adalah mata kuliah komunikasi lingkungan, psikologi, dan aspek ilmu lainnya.

Beragam seminar nasional tentang lingkungan hidup dan pembangunan nasional. Bahkan, hasil dari seminar ini digunakan sebagai bahan bagi delegasi Indonesia ke UN Conference the Human Environment di Stockholm, Swedia, Juni 1972. Hasil konferensi ini kemudian menjadi bahan bagi pertemuan PBB selanjutnya di Unpad, Bandung, pada tahun 1992. Dan 15 tahun setelahnya, materi ini juga menjadi dasar dalam pembahasan UN Conference on Climate Change di Bali.

Pada tahun 1978, Soemarwoto juga diminta membantu membahas drat RUU Lingkungan Hidup dan pembahasan tentang analisis dampak lingkungan hidup, misalnya ketika pemerintah ingin membangun pabrik bubur kayu di Kawasan Toba, Sumatera Utara.

Pada 2006, Soemarwoto diminta membantu Sultan Hamengkubuwono X Menyusun rencana pembangunan yang berwawasan lingkungan di Yogyakarta. Juga pernah diminta menjadi Ketua Panitia Nasional Kalpataru oleh Soeharto melalui Emil Salim.

Ingat Hari Bumi, ingat bapak Ekologi Indonesia.

(*)

Seperti ditulis NAUFAL RIDHWAN ALY di laman Tempo.co 
Photo  : Soemarwoto, dok © Tempo.co 
KAITAN:Hari bumiKalpatarulingkunganSoemarwoto
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Konflik Monyet dan Manusia di Batam, dari Ambil Makanan sampai Masuk Bandara
Artikel Selanjutnya Srimulat: Karakter Pertunjukan yang Membekas di Ingatan 
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
71 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
97 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
198 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
257 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
304 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.7k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pohon?

Oleh Andri Susi
2.1k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?