Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Varia

Promo Mulut ke Mulut, Kadang Ditinggal Kabur Pengantin

Oleh Andri Susi
Diterbitkan pada: 28 Juli 2008
588 x dilihat
Sebarkan

PUNYA usaha rental busana pengantin komplit dengan make up tata rias dan dekorasinya? Ini merupakan salah satu usaha yang jelas market konsumen-nya. Masa peak juga bisa diprediksi. Apalagi didukung dengan pola hidup masyarakat kita dewasa ini yang maunya serba instan. Tapi, bukan berarti usaha seperti itu tidak ada resiko.

Mbak Dayu sudah menggeluti usaha rias pengantin plus persewaan busana dan dekorasi sejak beberapa tahun lalu. Usahanya juga bisa dibilang turunan. Sebelumnya, wanita ini aktif membantu usaha sejenis milik orang tuanya di Tanjung Pinang. Begitu cukup modal dan market pasar didapat, ia mulai mengepakkan kiprah di Batam.

Sudah ratusan pasang pengantin yang menggunakan jasa usaha mbak Dayu. Tarif yang ditawarkan juga terbilang murah. Menurut wanita ini, ia memang sengaja mengambil pasar konsumen menengah ke bawah. Pergeseran pola hidup masyarakat yang inginnya serba instant, juga membuat usaha yang digeluti wanita ini tetap bertahan walaupun banyak pesaing.

“Biasanya yang ramai saat bulan haji atau Maulud. Kata orang, bulan-bulan itu merupakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan”, ujar Dayu yang ditemui di lokasi usahanya di daerah Bengkong Harapan.

Koleksi busana di butiknya juga terbilang komplit. Mulai dari busana adat Aceh, Batak, Minang, Melayu, Palembang, Betawi, Sunda dan Jawa. Ia juga mempersiapkan busana untuk pendamping atau pagar ayunya. Untuk keperluan dekorasi, ada beberapa pilihan yang bisa digunakan.

“Kerjanya sih santai, kita lebih sering di rumah. Rata-rata yang datang ke sini karena mendengar informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut”, ungkapnya. Untuk memperlancar usaha, Mbak Dayu juga dibantu dengan beberapa orang staf. Mereka akan langsung berangkat ke lokasi jika orderan masuk.

Menjalani usaha rias pengantin plus persewaan busana menurut mbak Dayu terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, karena asset dan modal yang dimiliki bisa digunakan berkali-kali. Tidak seperti di bisnis rumah makan. Ruginya langsung terasa jika dagangan tidak laku. Ia hanya perlu memperbaharui koleksi di waktu-waktu tertentu.

Susahnya? Ia dituntut untuk selalu memperbaharui pelanggan. Rata-rata, orang yang menggunakan jasa usaha seperti ini hanya sekali seumur hidup. Kecuali, jika rumah tangga si pelanggan bubar kemudian ia menikah lagi dan menggunakan jasa rias pengantinnya kembali. Tapi yang seperti itu sangat jarang sekali. Kendala lain adalah dalam hal perawatan asset busana. Atau, Kadang busana yang disewakan kembali dengan kondisi yang sudah tidak utuh lagi.

Soal pelanggan, Dayu punya beberapa pengalaman pahit. Mulai dari pembayaran yang tidak sesuai perjanjian, tidak dibayar dan hanya diberi janji-janji karet atau malah ditinggal kabur pengantin yang menggunakan jasanya. Kesal? Tentu saja.

“Ya, yang namanya usaha pasti ada kendala yang seperti itu. Pernah juga lho ada yang alamatnya tidak jelas saat ditagih, untungnya busana sudah dikembalikan”, ungkap Dayu sambil tersenyum.

Ada juga pengantin yang sudah menikah setahun yang lalu, tapi belum dibayar hingga saat ini. Ia hanya diberi janji-janji manis pembayaran yang selalu ngaret. Jika sudah begitu, mbak Dayu selalu berpegang pada prinsip usaha yang low profile dan tidak terlalu ngoyo. Yang penting, berusaha memberikan yang terbaik untuk para pelanggan. Terbukti, usaha yang digeluti wanita ini bisa terus hidup. Pelanggan-pelanggannya juga terus datang silih berganti. Padahal promo usaha hanya berdasarkan kepercayaan, pemberitahuan dari mulut ke mulut serta satu plang logo usaha yang dipasang di depan rumah.

(*)

Postingan ini pertama kali diunggah pada 28 Juli 2008 di blog lama saya : noesaja.wordpress.com
KAITAN:pengantinrias pengantinusaha
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya YODHA K. NUSANTARA
Artikel Selanjutnya Sekolah Jadi Rumah
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
133 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
160 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
260 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
327 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
362 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.9k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Ragam Tanaman di Kebun Raya Batam

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?