Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Varia

Konflik Monyet dan Manusia di Batam, dari Ambil Makanan sampai Masuk Bandara

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 22 April 2022
962 x dilihat
Sebarkan

SATU monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) bernasib tragis di Kota Batam, Kepulauan Riau, baru-baru ini. Ia dibunuh setelah mengganggu dan memakan dagangan takjil seorang pedagang di tepi jalan.

Seorang warga memukul dan menusuk monyet dengan tongkat sampai mati. Monyet-monyet lain juga menyasar bandara Kota Batam untuk mencari pakan. Konflik monyet dan manusia terus terjadi di Kota Batam. Diduga kuat, salah satu penyebabnya hutan sebagai habitat mereka tergerus jadi pengembangan kota.

Kejadian pembunuhan monyet ini berawal ketika pedagang menjajakan makanan kue untuk takjil berbuka puasa di tepi jalan di Perumahan Modena, Kota Batam. Ruas jalan ini merupakan perlintasan utama kendaraan di Batam. Di sepanjang jalan di kelilingi pepohonan.

Davin yang melihat kejadian bercerita, melihat kerumunan tak biasa di lokasi pedagang takjil. “Saya lihat ramai sekali, tidak seperti sore-sore biasanya,” katanya, awal April.

Dia  penasaran dan mendekat. Dia melihat seekor monyet di meja sedang memakan kue takjil yang tersusun rapi.

Berapa kali warga mengusir monyet tetapi tak bisa. “Ada juga yang merekam, karena mungkin lucu dan tidak mau ngusir karena takut dicakar,” katanya. .

Selang beberapa menit, seorang warga keluar dari arah perumahan membawa tongkat. Davin mengira itu tongkat sapu untuk mengusir monyet. Setelah dia perhatikan terdapat besi runcing di bagian ujung tongkat. “Beberapa orang waktu itu teriakin, pukul kepalanya bang,” kata Davin menirukan.

Monyet ekor panjang di Batam. Konflik manusia dan monyet ekor panjang di Batam, makin mengkhawatirkan. Foto: Yogi ES/ Mongabay Indonesia

Seketika pria dengan tongkat mendorong dan memukul kepala monyet. Beberapa saat monyet mengeluarkan suara keras. “Setelah itu diam saja.”

Davin kaget, saat tongkat diangkat monyet tertancap di tongkat. “… sangat disayangkan kok sampai dibunuh,” katanya.

Kematian monyet ini juga tersebar di media sosial. Kebanyakan netizen menyayangkan pembunuhan monyet. Menurut mereka cukup dengan mengusir.

Beberapa waktu lalu, gerombolan monyet ekor panjang juga meringsek masuk ke Bandara Internasional Hang Nadim. Satu dari mereka bahkan lari sampai ke pintu kedatangan bandara ketika ditangkap petugas.

Peristiwa ini sempat viral di media sosial. Terlihat petugas kesulitan menghalau monyet yang bertenger di atas pintu kedatangan. Sebelum akhirnya berhasil di usir keluar dari bandara.

“Kita belum menemukan solusi jangka panjang mengatasi masalah monyet ekor panjang ini,” kata Decky, Kepala Seksi Konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kepulauan Riau.

Konflik satwa dan manusia terjadi, katanya, kuat dugaan karena hutan yang jadi habitat mereka terus tergerus. “Habitat mereka makin sempit dan sumber pakan mereka juga makin berkurang, hingga harus mencari ke tempat lain.”

Data Global Forest Watch (GFW) menunjukan pada 2001, Batam memiliki 39.200 hektar hutan primer. Hutan di Batam membentang 38% dari luas daratan. GFW menyebutkan, dalam 2020, Batam kehilangan 435 hektar hutan primer.

Warga yang menyaksikan monyet mendatangani lapak jualan takjil warga. Tak lama ada yang data dan menombaknya hingga mati. Foto: Davin, © Mongabay Indonesia

(*)

Seperti ditulis Sapariah Saturi di laman Mongabay Indonesia 
Photo cover : Monyet di Batam, © Yogi ES., Mongabay Indonesia
KAITAN:BATAMHabitatKonflikmanusiaMonyet
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Berburu Ketam Sei Terih Yang Mulai Langka
Artikel Selanjutnya Kisah Otto Soemarwoto Pilih Bela Ekologi Indonesia di Era Soeharto | Peringatan Hari Bumi
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
71 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
97 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
198 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
257 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
304 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.7k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pohon?

Oleh Andri Susi
2.1k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?