Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Humaniora

Pucung yang bikin Mabuk Kepayang

Pecong; Pucung Penanda Pulau (3)

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 2 November 2023
1.5k x dilihat
Sebarkan

PULAU Pecong, dinamai dari pohon yang disebut masyarakat setempat sebagai pohon pucung. Pohon yang sangat tidak diinginkan karena mulai dari daun, buah hingga batangnya, disebut memiliki rasa yang pahit, bahkan memabukkan. Dahulunya, pohon itu banyak ditemui di sekitar pulau ini.

Di beberapa daerah lain, pohon Pucung yang memiliki nama binomial : pangium edule, sebenarnya dimanfaatkan sebagai bumbu masak. Kelompok masyarakat lain ada yang menyebutnya sebagai pohon kepayang atau kluwek jika di daerah Jawa.

Bijinya bisa dipakai sebagai bumbu dapur masakan  yang memberi warna coklat kehitaman. Misalnya pada masakan rawon atau  brongkos di Jawa serta sup konro di Sulawesi.

“Ya, itu cerita orang-orang tua sejak dulu tentang nama pulau ni. Diambil dari nama pokok (pohon, pen) yang memiliki buah yang pahit”, kata pak Bakar saat Sania menanyakan asal mula nama pulau yang dianggapnya aneh. Berkali-kali Sania gagal melafazkan nama: Pecong secara benar. “Pecong” yang dikenal warga, biasa dilafazkan dengan menggunakan ‘e lemah’, seperti mengucapkan kata : ‘berdikari’, misalnya. Tapi Sania mengucapkan dengan lafaz menggunakan ‘e’ biasa.

Rumah-rumah warga di pulau Pecong yang berdiri di atas laut. © bintorosuryo.com

“Pecong tu dari Pucung. Karena pengucapan masyarakat setempat, pokok Pucung tu diucapkan jadi Pecong. Dulu, pohon Pucung, banyak dijumpai di sekitar pulau ni. Mulai dari daun, batang,byah hingga bijinya pahit. Orang sini tak suka pokok tu”, kata pak Bakar.

Para pelajar di pulau Pecong bersama Sania, © bintorosuryo.com

Dari literasi ilmiah yang saya peroleh, Pohon Pucung yang disebut pak Bakar itu di kalangan masyarakat Melayu juga dikenal dengan nama pohon kepayang. Secara ilmiah, tanaman itu mengandung komponen glikosida sianogenik, yang dapat dengan cepat terhidrolisis menjadi gula, aldehida serta asam sianida. Glikosida sianogenik-nya dapat ditemukan pada daun, kulit batang, serta biji tanaman. Itu yang disebut pahit dan beracun oleh pak Bakar dan warga di pulau ini.

Literasi lain menyebut, pada zaman dulu, racun pada biji kepayang atau Pucung, dapat digunakan sebagai racun mata panah. Jika buahnya dimakan secara langsung, dapat menyebabkan orang yang mengkonsumsinya mabuk.

Oleh karena itu, muncul ungkapan “mabuk kepayang” dalam bahasa Melayu yang kemudian diadopsi ke bahasa Indonesia untuk menggambarkan keadaan seseorang yang sedang jatuh cinta, sehingga tidak mampu berpikir secara logis. Seakan-akan habis memakan buah kepayang.

Namun, biji pohon tersebut sebenarnya aman untuk diolah bila telah direbus dan direndam. Untuk memunculkan warna hitam pada masakan, misalnya.

“Ada satu yang tersisa dekat lapangan bola tu, sebenarnya. Tapi sekarang dah ditebang karena dianggap tak bermanfaat”, ujar pak Bakar.

(*)

Bersambung

Selanjutnya : Komplek Sekolah dari Lahan Hibah Warga – Pecong; Pucung Penanda Pulau (4)

KAITAN:#SerialBATAMHinterlandhistoryPecongPesisirpulausejarah
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Rengkam, Tumpuan Nelayan Saat Cuaca Buruk
Artikel Selanjutnya Komplek Sekolah dari Lahan Hibah Warga
2 Komentar 2 Komentar
  • Ping-balik: Rengkam, Tumpuan Nelayan Saat Cuaca Buruk – Bintoro Suryo
  • Ping-balik: Pucung yang Bikin Mabuk Kepayang - GoWest.ID

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
171 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
206 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
297 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
366 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
397 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
3k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.4k x dilihat

Ragam Tanaman di Kebun Raya Batam

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?