Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Humaniora

Manusia Belerang

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 21 Mei 2008
513 x dilihat
Sebarkan
Ilustrasi, gunung Welirang. Phinemo

BERAPA pendapatan anda dalam sebulan? Bagaimana cara anda memperolehnya? Jawabannya mungkin bisa bermacam-macam. Ada yang menggunakan kelebihan skill yang dimiliki. Bisa juga menggunakan otak sebagai tumpuan beban kerja. Yang lain menggunakan fisik kasar dan tenaganya untuk menghasilkan lembaran rupiah.

Klasifikasi saya ini tidak termasuk bagi mereka yang menggunakan otak secara licik atau tenaga secara kasar untuk mengambil yang bukan haknya. Saya tidak sampai hati memasukkan dua kategori terakhir karena teringat manusia belerang di gunung Welirang.

Manusia belerang adalah kelompok masyarakat bagian kita yang menggantungkan hidup dari mencari belerang di puncak-puncak gunung. Jarak dan waktu bukan masalah bagi mereka. Termasuk juga dengan nominal rupiah yang diterima sebagai alat tukar belerang yang mereka bawa.

Mengawali kerja saat matahari belum terbit dan kembali ke rumah saat matahari sudah tenggelam. Manusia belerang biasa menempuh jarak menuju puncak-puncak gunung yang memiliki kandungan belerang dengan waktu 6 hingga 7 jam. Beberapa jam mengumpulkan bongkahan batu belerang yang berwarna kekuning-kuningan, mereka kemudian harus menempuh kembali perjalanan pulang yang menurun dengan waktu 3 hingga 4 jam. Bongkahan batu belerang yang mereka bawa per orang, biasanya mencapai 30 hingga 40 kilogram. Pada tahun 1998, hasil yang mereka bawa bisa ditukar dengan lembaran rupiah senilai Rp. 5000 hingga Rp 8000,-.

Di kaki gunung Welirang Jawa Timur, ada belasan bahkan mungkin puluhan warga yang menggantungkan hidup dari usaha mencari belerang di puncak gunungnya. Modal mereka cuma beberapa lembar karung atau keranjang anyaman bamboo untuk diisi bongkahan batu belerang, pikulan dari kayu yang kokoh serta golok atau parang yang diselipkan di pinggang. Yang lain biasanya modal pendukung kerja seperti nasi putih dengan lauk tempe atau tahu yang dibungkus daun pisang serta botol berisi air minum.

Di kawah puncak, mereka bisa mencari belerang yang masih mendidih yang didapatkan dengan cara mengalirkannya langsung dari dapur magma melalui pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat. Setelah terasa dingin, barulah belerang dapat diambil untuk ditimbang di tempat penampungan warga setempat.

Salah satu yang pernah saya kenal, namanya pak Pardi. Usianya sudah tidak bisa dibilang muda, 43 tahun. Sedari muda ia sudah menggeluti pekerjaan sebagai pencari belerang. Walau hasilnya tidak seberapa, pak Pardi mengaku senang.

Hasil bayaran belerang, sebenarnya hanya cukup untuk hidup sehari bersama keluarga. Makanya, pak Pardi kadang nekad mencari dan membawa turun belerang dari puncak melebihi beban yang biasa dipikul. Biasanya, hal itu dilakukan saat akan melunasi biaya sekolah anak-anaknya atau ada kebutuhan mendadak. Tak jarang, anak sulungnya yang sudah remaja ikut membantu.

Kulit pak Pardi sudah mulai longgar karena termakan usia, tapi urat-urat tangannya kelihatan kekar. Tulang bahunya cekung dan dalam. Mungkin karena terlalu lama dan sering memikul beban puluhan kilogram bongkahan belerang selama berjam-jam setiap hari.

Saat singgah di rumahnya, saya jadi lebih tahu kenapa orang-orang seperti pak Pardi bisa terus setia menjalani hidup sebagai manusia belerang. Mereka memang tidak punya keinginan yang muluk-muluk dalam hidup. Pola pikir dan hidup mereka adalah rutinitas yang biasa dijalani dan bersifat turun temurun. Rutinitas adalah pola hidup yang lurus.

(*)

Postingan ini pertama kali diunggah pada 21 Mei 2008 di blog lama saya : noesaja.wordpress.com
KAITAN:gunung raungMANUSIA BELERANGNOESAJA
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya “Brother/Sister”
Artikel Selanjutnya Kesetiaan Sampai Mati
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
77 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
103 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
203 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
267 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
308 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.7k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pohon?

Oleh Andri Susi
2.1k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?