Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Cerita

“Nama, Khatulistiwa”

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 27 Februari 2016
556 x dilihat
Sebarkan

SAYA termasuk yang tidak sependapat dengan Shakespeare tentang nama. Bagi saya, nama itu seperti doa yang direkatkan kepada si empunya. Nama juga seperti pengharapan dan jadi identitas.

Walau pakemnya tidak terlalu baku lagi, saat ini orang tetap gampang menebak, kok.

Seseorang dengan nama yang diisi huruf vokal yang kebanyakan O (seperti nama saya ) atau diawali dengan Su,  kemungkinan orang Jawa.

Jika namanya dua suku kata dan tiap satu suku katanya selalu diawali dengan huruf yang sama, biasanya berasal dari Sunda.

Atau, jika namanya menggunakan nama yang lazim digunakan oleh orang muslim di tanah Arab dan ditempel dengan suku kata bin atau binti, mungkin dia dari etnis Melayu atau Bugis.

Skalanya mungkin bisa diperluas lagi. Coba perhatikan nama-nama yang lazim dipakai oleh orang di Thailand, Vietnam, China atau Jepang.

Kalau bicara global, sebenarnya pakemnya tidak selalu begitu. Ada pakem-pakem lain yang digunakan dan jadi pertimbangan.

Tapi, begitulah nama. Ia jadi identitas yang menjelaskan siapa si empunya. Biasanya juga, nama-nama yang diberikan selalu memiliki maksud  yang positif. Menjadi pengharapan dari yang memberikan nama.

Harapannya tentu saja aura positif itu terus melekat pada si empunya nama hingga kelak dewasa.

———–
SATU yang saya kagumi dari etnis Melayu di Malaysia dan Singapura adalah kebiasaan penamaan nama anak-anak mereka yang biasanya patuh pada pakem yang sama. Nama-nama Islam.

Malaysia, apalagi Singapura, jelas bukan merupakan negara yang tertutup dengan pengaruh budaya luar. Arus modernisasi jelas kelihatan. Sama halnya juga di Indonesia.

Tapi soal nama, biasanya mereka tetap menggunakan pakem yang sudah turun temurun digunakan orang-orang tua mereka. Nama yang awalnya dulu berbau arab, tapi kini sudah sangat lekat sekali dengan identitas kemelayuan.

Nama mereka biasanya masih menganut pakem yang sama seperti juga nama-nama yang diberikan kakek buyut kepada orang tua mereka. Nama yang khas Melayu. ‘Kepatuhan‘ yang turun temurun tetap dipertahankan.

Anda yang penyuka bola, juga bisa periksa nama-nama pemain bola dari Eropa Timur. Dari semenanjung Balkan, misalnya.

Kebanyakan selalu diakhiri dengan –ic, –vic. Itu jadi ciri khas dan identitas yang tentunya memudahkan kita menebak identitas asal mereka.

Selain budaya, bahasa dan kebiasaan, saya yakin penamaan dengan akhiran itu, punya maksud positif tertentu. Itu doa.

KHATULISTIWA itu garis khayal yang membagi bumi jadi dua bagian. Adil dan sama besar. Sisi yang satu jadi utara. Yang lain disebut selatan.

Ia ada di tengah-tengah bumi. Di antara dua kutub dan paralel terhadap poros bumi. Garis ini melintasi daratan atau wilayah perairan 14 negara di dunia. Indonesia salah satunya.

Saya suka filosofinya. Adil. Saya juga suka karena kata itu bisa menjelaskan tentang sebuah negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi. Negeri tempat saya, istri dan anak-anak lahir.

Kata itulah yang saya pakai untuk nama tengah anak kedua saya, Yura.

(*)

NB : Rasanya ngga adil bagi kedua anak saya jika saya tidak menulis ini. Dulu, saya sudah pernah menulis tentang nama tengah anak pertama saya, Yodha. Itu dibuat hanya sebulan setelah Yodha lahir.
Foto : Dua anak saya lagi belajar selfie.
Postingan ini pertama kali diunggah pada 27 Februari 2016 di blog lama saya : noesaja.wordpress.com
KAITAN:khatulistiwaNAMAOTAK LELAKIyura
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya VIDEO : Turun ke Kota
Artikel Selanjutnya Sampah Digital
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
77 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
101 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
203 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
267 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
308 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.7k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pohon?

Oleh Andri Susi
2.1k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?