Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
Impresi

Privasi yang Dipublikasi

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 11 Januari 2018
709 x dilihat
Sebarkan

WHATSAPP klaim punya teknologi canggih yang dienkripsi untuk melindungi data dan percakapan penggunanya.

Untuk jaminan itu, mereka mungkin menggelontorkan dana penelitian hingga jutaan dollar. US, ya. Bukan Sin$!

Dengan fasilitas pesan yang terenkripsi, Whatsapp sendiri menjamin bahwa percakapan pribadi penggunanya bersifat rahasia. Yang tahu, cuma si pengguna dan lawan chat-nya saja.

Untuk banyak hal, ini sangat membantu bagi pengguna yang butuh privasi dalam aktifitas digitalnya. Tapi untuk obrolan, masih bisa di-screenshoot, rupanya?

Dan, ini yang terjadi. Percakapan-percakapan pribadi yang seharusnya cuma diketahui pengguna yang bersangkutan dan lawan bicaranya, bisa diketahui dengan mudah oleh orang lain.

Cukup menggunakan fasilitas tangkapan layar (screen shoot), dialog percakapan secara pribadi yang dilakukan dua pengguna whatsapp, sudah bisa disebarkan. Kemudian diketahui orang lain dan jika kontennya seksi, bukan tidak mungkin menjadi viral!

Padahal, awalnya itu ranah privasi, lho.

Rasanya, teori enkripsi untuk menjaga kerahasiaan pesan pengguna yang disematkan di aplikasi itu, jadi percuma untuk kondisi yang terakhir.

Metode enkripsi canggih, cuma perlu diakali dengan fitur tangkapan layar.

————————–
APAKAH sulit menyematkan kode blokir tangkapan layar di sebuah aplikasi? Sepertinya nggak bagi mereka yang memang berkutat sebagai pengembang aplikasi.

Beberapa waktu lalu, saya pernah menggunakan aplikasi desain 3 dimensi interior untuk mendapatkan deskripsi lebih nyata dari konsep rancang bangun sebuah bangunan. Iseng-iseng saja karena saya bukan insinyur bangunan, arsitek atau ahli interior ruangan.

Tapi, desain saya ternyata dipakai oleh beberapa teman. Mereka ingin saya mengirimkan outputnya.

Yang jadi masalah, desain yang saya buat dengan aplikasi itu, tidak bisa dikonversi menjadi sebuah output. Cuma project saja. Jika ingin dijadikan hasil akhir desain 3 dimensi, saya harus beli versi premium aplikasi itu.

Dan, saya memang nggak ingin membelinya.

Saya coba akali dengan fitur tangkapan layar (screen shoot). Paling tidak, bisa mendapatkan beberapa sudut gambar statis dari rancangan itu dalam format jpeg. Ternyata, fitur tangkapan layar tidak bisa digunakan saat saya membuka aplikasi itu.

Pengembangnya menyematkan kode blokir untuk fitur tangkapan layar di aplikasinya yang gratis!

Pengembang aplikasi ini, rasanya bukan perusahaan besar. Di playstore, aplikasinya juga belum mendapat rating tinggi.

Tapi, mereka bisa dan mau menyematkan kode blokir tersebut!

————————–
SAYA menghindari untuk menggunakan tangkapan layar dalam pembicaraan-pembicaraan dengan orang lain yang dilakukan secara pribadi di aplikasi pesan instan WhatsApp. Sebisanya, Insha Allah.

Ini soal etika. Rasanya lebih sopan jika  perlu menyampaikannya kembali ke pihak lain, saya menyampaikannya dengan cara yang lain. Ini jika pembicaraan saya di ruang-ruang privasi chat memang bukan sebuah hal yang rahasia, ya.

Sambil menunggu pengelola WhatsApp berbaik hati menyematkan kode blokir tangkapan layar (screenshoot) di pembicaraan-pembicaraan pribadi penggunanya, saya pilih pakai etika saja untuk menjaganya.

(*)

Postingan ini pertama kali diunggah pada 11 Januari 2018 di blog lama saya : noesaja.wordpress.com
KAITAN:impresiprivasiwhatsapp
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya “Playing Together”
Artikel Selanjutnya Ke Engku Puteri, Pagi-Pagi
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
116 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
151 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
239 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
313 x dilihat
Konflik Persaingan Inggris – Belanda, Ancaman Perompakan
History
11 Desember 2025
353 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
2.8k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.2k x dilihat

Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Pohon?

Oleh Andri Susi
2.1k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?