Bintoro SuryoBintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
Bintoro SuryoBintoro Suryo
  • Catatan
  • Pandang Dengar
  • Persona
  • Sisi
Cari
  • Catatan
    • Cerita
    • Humaniora
    • Lingkungan
    • History
  • Pandang Dengar
    • Potret
    • Inspirasi
  • Persona
    • Otak Lelaki
    • Puan
    • Keluarga
    • Kanal Teman
  • Sisi
    • Varia
    • Fiksi
    • Impresi
    • NulisRingkas
Ikuti Kami
Copyright 2004 - 2025, bintorosuryo.com. Desain oleh Beplus Indonesia
History

Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854

(Bagian 1)

Oleh Bintoro Suryo
Diterbitkan pada: 3 April 2026
34 x dilihat
Sebarkan
Ilustrasi lukisan pulau Karimun Besar pada masa lalu.

“Kediaman Yang Dipertuan Muda tidak jauh dari pantai. Sementara keluarga, pengikut, dan penduduk lainnya membentuk populasi sekitar 400 atau 500 jiwa di pulau itu.”

Daftar Isi
  • Awal Perjalanan, Bertemu Yang Dipertuan Muda Riau
  • Perjalanan Ditemani Radja Abdullah
  • Tiba di Pulau Terong (Trong)
  • Di Kampung Meral, Karimun Besar
  • Eksplorasi Wilayah

…

“Radja Abdullah adalah sosok yang berpengaruh serta berkuasa. Ia dikenali oleh penduduk di Riau, termasuk di kepulauan Karimon. Keikutsertaannya dalam perjalanan ini, merupakan keuntungan terbesar rombongan tuan Van Den Berg.”

…

“Tuan Van Den Berg melihat tiga perahu lain di dekat kapal mereka. Ketika ia bertanya kepada Radja Abdullah tentang identitas warga yang baru tiba tersebut, jawabannya adalah bahwa mereka datang dari Meral atas perintahnya, membawa beberapa orang Melayu yang telah memberikan informasi tentang bijih timah …” (Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie, tahun ke-17 edisi 1-6, publikasi tahun 1855, DR. W.R. Van Hoevel)


ARTIKEL berikut memuat catatan perjalanan seorang warga negara Belanda yang berdomisili di Riouw (Tanjungpinang, pen.) dalam rencana mengeksplorasi sumber data timah yang ada di wilayah Karimun. Van Den Berg pada pertengahan tahun 1854 bersama rombongan Yang Dipertuan Muda Riau dan Radja Abdullah, melakukan survei awal terhadap pulau Karimun Besar (Groot Karimon, pen.) dan Karimun Kecil (Klein Karimon, pen.) di pintu masuk selatan Selat Malaka.

Catatan dibuat oleh seorang redaktur majalah jurnal ilmu pengetahuan untuk Hindia Belanda (Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie) tahun ke-17 edisi 1-6, DR. W.R. Van Hoevel. Pada edisi yang dipublikasi tahun 1855 tersebut, memuat laporan seorang warga negara Belanda yang tinggal di Riouw (Tanjungpinang, pen ), Van Den Berg.

Tidak hanya memberikan keterangan geografi dan topografi pulau-pulau tersebut,. Tetapi juga laporan lapangan mengenai penemuan bijih timah, di wilayah Karimun pada masa lalu, kondisi penduduk setempat, serta konteks politik dan ekonomi yang melatarbelakangi eksploitasi sumber daya.

Catatan perjalanan Van Den Berg itu, memetakan pulau Karimun Besar dan Karimun Kecil yang juga memberi gambaran masa lalu tentang kondisi wilayah dan masyarakat di Kepulauan Riau.

Selain uraian lapangan yang terperinci—mulai dari geografi, nama-nama sungai, hingga praktik penambangan tradisional—catatan yang dibuat oleh Baron Van Hoevel berikut, juga memuat informasi latar tentang hubungan antara penguasa Riau dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam eksploitasi sumber daya. Kontribusi ini berguna bagi pembaca yang menginginkan rujukan historis tentang perkembangan awal kegiatan penambangan di kawasan Karimun.

Yang juga menarik pada catatan ini adalah deskripsinya tentang pulau Penyengat. Dalam pertemuannya dengan Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau di awal perjalanan, ia menjelaskan dengan detil tentang sosok YDM Riau yang saat itu dijabat oleh Raja Ali ibn Raja Ja’far. Pengamatannya tentang sosok Raja Ali Haji yang menemuinya di awal perjalanan serta sosok Raja Abdullah ibn Raja Ja’far, penguasa wilayah Karimun, yang juga merupakan abangda YDM Riau saat itu, Raja Ali.

Berikut kami sampaikan catatannya seperti termuat pada dokumen Tijdschrift Voor Netherlandsch Indie tahun ke-17 edisi 1-6, 1855.


DI pintu masuk selatan Selat Malaka, antara derajat pertama dan kedua Lintang Utara, terletak dua pulau yang disebut “Groot-Karimon” (pulau Karimun Besar, pen.) dan “Klein-Karimon” (pulau Karimun Kecil, pen.). Tampaknya, kedua pulau ini ditakdirkan untuk mengalami perkembangan yang akan pesat dalam beberapa waktu ke depan ini.

Sampai sekarang, sebenarnya tidak terlalu banyak yang kita ketahui tentang potensi kedua pulau ini. Data yang Kita tahu, luas Groot-Karimon sekitar 12 mil Inggris. Sementara Klein-Karimon, yang terletak di barat daya dan dipisahkan oleh selat sempit di antara keduanya, hanya sekitar 2,5 mil Inggris.

Kita tahu bahwa Klein-Karimon memiliki puncak yang curam di tengah pulau yang ditutupi dengan hutan lebat. Sementara di Groot-Karimon, memiliki dua bukit di sisi utaranya. Yang tertinggi mencapai 1500 kaki Rijnl, sementara tanah di kaki bukit itu rendah dan datar.

Data yang Kita miliki juga, kedua pulau itu memiliki bijih timah. Bahkan telah dilakukan eksploitasi penambangan timah beberapa waktu lalu, walau belum maksimal. Informasi keduanya mungkin sebatas itu saja.

Sekarang, kita memiliki kesempatan untuk memberikan beberapa kontribusi informasi penting baru tentang keduanya untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Kami berterima kasih kepada penduduk Riau serta Tuan Van Den Berg, yang saat ini sedang berusaha keras untuk mengembangkan kekayaan alam di pulau-pulau itu.


PADA pertengahan tahun lalu, tuan Van Den Berg sempat melakukan perjalanan dari Riau (Tanjungpinang, pen.) ke Groot-Karimon. Ia mencatat hal-hal penting yang ditemui selama perjalanan. Kami menerima salinan catatan tersebut yang kemudian kami sajikan dalam bentuk artikel seperti yang akan kami paparkan berikut.

Selain itu, kami memiliki beberapa informasi yang sangat penting tentang apa yang telah terjadi dengan Karimon baru-baru ini.

Pembaca kami pasti akan ingat bahwa Menteri Koloni telah beberapa kali diinterpelasi di parlemen tentang kontrak antara Wakil Raja Riau dan Tuan Van Den Berg, dan tentang persetujuan yang diminta dari pemerintah untuk eksploitasi Karimon sebagai hasil dari kontrak itu.

Kami bermaksud untuk membahas subjek itu secara rinci dalam bagian kedua dari kontribusi ini, dan menambahkan beberapa klarifikasi yang kami temukan kemudian.

Awal Perjalanan, Bertemu Yang Dipertuan Muda Riau

PADA tanggal 23 Juli 1854, sebuah prau besar telah siap di Telok Kriting, sebuah tempat berlabuh sekitar setengah mil dari Riau, ibu kota residen yang bernama sama di Tanjung Pinang (bagian dari pulau Bintan yang merupakan wilayah langsung pemerintah Belanda).

Cuaca sangat indah; langit cerah dengan angin tenggara yang segar membuat orang ingin melakukan perjalanan laut. Segera mereka naik kapal dan segera kapal itu membelah ombak laut.

Tuan Van Den Berg dan pengikutnya pertama-tama menuju ke pulau Penjingat (Penyengat, pen.). Sebuah pulau kecil yang hanya setengah jam perjalanan dari Riau.

Penjingat adalah kediaman wakil raja Riau (Yang Dipertuan Muda, pen.). Pulau itu tidak lebih dari satu setengah mil panjangnya dan satu mil lebarnya.

Kediaman Yang Dipertuan Muda tidak jauh dari pantai. Sementara keluarga, pengikut, dan penduduk lainnya membentuk populasi sekitar 400 atau 500 jiwa di pulau itu.

Kediamannya tidak bisa disebut istana. Karena, tidak hanya sangat sederhana, tetapi juga tidak lebih bagus dari rumah seorang kepala distrik di pulau Jawa.

Satu-satunya hal yang menarik perhatian dan patut mendapat perhatian di pulau kecil itu adalah bangunan masjid-nya. Bangunannya indah. Masjid itu baru saja selesai dibangun pada tahun 1849 lalu.

Ketika Tuan Van Den Berg tiba di tempat pendaratan di pulau Penjingat, ia segera menemui Yang Dipertuan Muda (Wakil Raja, pen.) di sana. Yang Dipertuan Muda Riau saat ini adalah seorang pria berusia empat puluh lima tahun, sedikit di atas tinggi rata-rata, dengan penampilan yang ramah dan menarik.

Jika Anda beruntung bertemu dengannya, Anda tidak akan menyesalinya. Ia adalah seorang bangsawan pribumi yang dalam banyak hal melebihi para kerabatnya.

Ia sopan dalam bersikap dan bermartabat dalam perilaku, jauh dari kesan sombong dan menganggap dirinya lebih tinggi.

Meskipun dia adalah seorang Muslim yang taat, namun sangat toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan, dan sering menunjukkan kemurahan hatinya kepada orang lain selain para kerabatnya yang seagama.

Dia juga sederhana dalam gaya hidup. Perilaku yang sama juga terlihat dari isterinya. Yang Dipertuan Muda Riau ini juga memiliki beberapa selir.

Kesederhanaan yang sama mencirikan penampilannya. Hanya pada kesempatan khusus, dia akan muncul di depan umum dengan pakaian kerajaan, dengan semua insignia dan pengikutnya. Seperti ketika dia mengunjungi Duke Van Saxen Weimar.

Tuan Van Den Berg menemuinya di tempat pendaratan di Penjingat. Saat itu, ia sedang duduk di meja dengan teh, manisan, dan makanan kecil lainnya. Yang Dipertuan Muda Riau ini sedang dikelilingi oleh beberapa kerabat dan pejabat terdekatnya. Termasuk Radja Ali Hadji, Hadji Ibrahim, Radja Hoesin, dan Radja Abdullah.

Radja Abdullah adalah kakanda dari Yang Dipertuan Muda Riau. Sementara Hadji Ibrahim adalah wakil Yang Dipertuan Muda Riau. Hadji Ibrahim adalah seorang pria yang sangat berpendidikan, cerdas, dan rajin. Ia diketahui mengenyam pendidikan dan mendapatkan banyak pengalaman selama perjalanannya ke Mekka dan pulau Jawa.

Salah satu orang pribumi lain yang paling menarik adalah Radja Ali Hadji. Ia merupakan saudara Yang Dipertuan Muda dari isteri selir pamannya. Radja Ali Hadji tidak hanya terkenal karena pendidikan dan pengetahuan umumnya. Tetapi, ia juga seorang sastrawan yang baik dan seorang penyair yang terkenal di kalangan kerabatnya.

Beberapa karyanya baru-baru ini diterbitkan. Yang patut diperhatikan, terutama karena semakin langkanya penduduk asli yang mempelajari bahasa dan sastra seperti yang dilakukan oleh Radja Ali Hadji ini.

Tapi sebelum kita melanjutkan cerita ini, kita harus menjelaskan siapa sebenarnya Yang Dipertuan Muda Riau yang sedang menjabat saat ini.


PADA abad-abad sebelumnya, ada kerajaan Melayu yang terkenal, yang ibukotanya berpindah-pindah antara Singapura, Malaka, dan beberapa tempat lainnya. Sekarang, residen Riau adalah sisa-sisa wilayah kerajaan Melayu itu. Sementara Sultan Riau Lingga adalah penerus raja-raja Melayu tersebut.

Yang Dipertuan Muda Riau merupakan wakil raja yang memiliki pendapatan dari sewa hak penebangan kayu, hak penebangan tiang wangkang, penangkapan agar-agar, dan lain-lain. Semua pendapatannya itu, bersama dengan kompensasi dari pemerintah Kolonial Belanda yang diberikan padanya, diperkirakan sekitar f105.000 per tahun.

Namun, di samping pendapatan yang cukup besar itu, ada banyak pengeluaran yang harus ia tanggung. Seperti kebiasaan keluarga bangsawan ini sebelumnya, Yang Dipertuan Muda Riau juga menanggung kehidupan semua kerabatnya. Ia juga sering dimintai uang terus-menerus oleh Sultan. Meskipun secara aturan sultan tidak memiliki hak untuk itu, Yang Dipertuan Muda tetap dipaksa oleh kemurahan hatinya untuk memenuhinya.

Perjalanan Ditemani Radja Abdullah

KETIKA Tuan Van Den Berg disambut oleh para bangsawan Riau dan duduk di tengah-tengah mereka, percakapan segera beralih ke perjalanan yang akan dilakukan.

Tujuan perjalanan adalah untuk melakukan survei yang lebih akurat tentang pulau-pulau Karimon dan untuk menyelidiki kekayaan Groot-Karimon dalam hal timah dan kesesuaiannya untuk eksploitasi logam itu.

Setelah wakil raja menjelaskan pandangannya tentang cara terbaik untuk mencapai tujuan itu dan menunjukkan kesediaannya untuk mendukung seluruh usaha, mereka berangkat pada pukul 9:30 pagi.

Kakanda Yang Dipertuan Muda, Radja Abdullah, menemani Tuan Van Den Berg dalam perjalanan ini. Kesediaan Radja Abdullah menemani perjalanan, harus diakui sangat membantu, karena kehadiran seorang tokoh yang begitu berpengaruh pasti akan sangat membuat penduduk lebih siap membantu.

Sebenarnya, kepala-kepala wilayah lebih bergantung pada wakil raja (Yang Dipertuan Muda, pen.) daripada kepada Sultan Riau Lingga. Sultan memilih wakil raja dengan persetujuan pemerintah kolonial. Biasanya dari keluarga bangsawan Bugis, dan jika mungkin dari keturunan ayah Yang Dipertuan Muda Riau saat ini, yakni Radja Djafar, yang meninggal pada tahun 1831 lalu.

Dari ketentuan ini, hanya boleh disimpang dalam keadaan darurat.

Begitu Yang Dipertuan Muda baru dipilih, ia kemudian menunjuk, dalam konsultasi dengan residen, kepala-kepala wilayah lainnya, yang menerima surat pengangkatannya dan ditandatangani oleh Yang Dipertuan Muda serta Residen Belanda di Riau.


RADJA Abdullah adalah sosok yang berpengaruh serta berkuasa. Ia dikenali oleh penduduk di Riau, termasuk di kepulauan Karimon. Keikutsertaannya dalam perjalanan ini, merupakan keuntungan terbesar rombongan tuan Van Den Berg.

Setelah berpisah dengan hangat, rombongan meninggalkan Penjingat dan mulai berlayar, dengan angin tenggara yang kencang. Pelayaran ini melalui Selat Doeri atau Drioen, yang memisahkan pulau-pulau kecil di sekitar Boelang dengan kelompok pulau-pulau di Karimon.

Pada malam hari, sekitar pukul 9, mereka mencapai sebuah pulau kecil bernama Poeloe Mandjang, yang diperkirakan berjarak sekitar dua puluh mil dari Penjingat. Di sana mereka melemparkan jangkar dan menghabiskan malam.

Tiba di Pulau Terong (Trong)

Keesokan paginya, 24 Juli 1854, Rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Melalui berbagai selat dan teluk, dan melewati banyak pulau kecil, kapal akhirnya tiba di poeloe Trong (pulau Terong, pen.) sekitar pukul 2 siang.

Di pantai pulau ini, seperti di banyak pulau kecil lainnya, ada perahu-perahu kecil yang dihuni oleh orang-orang yang disebut “orang beroet” atau “orang laut”.

Orang-orang ini hidup dalam kemiskinan bersama istri dan anak-anak mereka. Kehidupannya bergantung dari ikan yang mereka tangkap. Menurut catatan tuan Van Den Berg, mereka tidak beradab, bahkan seperti binatang. Banyak di antara mereka yang menderita banyak penyakit kulit yang tidak dapat disembuhkan.

Di Poeloe Trong juga tinggal beberapa orang Melayu yang mencari nafkah dengan menangkap tripang serta agar-agar. Umumnya orang Melayu di banyak pulau-pulau di sekitar perairan ini, selain menjadi nelayan, mereka juga tidak segan-segan melakukan perompakan jika ada kesempatan.

Kami mengatakan ini tanpa merujuk pada penduduk Poeloe Trong, yang menyambut rombongan tuan Van Den Berg dengan sangat hormat.

Di antara mereka ini, enam orang atas permintaan Radja Abdullah, kemudian mengikuti pelayaran rombongan dalam pelayaran selanjutnya. Lima sebagai pengayuh dan satu warga yang bernama Kaha, sebagai juru mudi.

Di Kampung Meral, Karimun Besar

SETELAH menghabiskan malam di sana, mereka berangkat dari Poeloe Trong keesokan paginya pada pukul 7 pagi dan tiba di ujung selatan Groot-Karimon pada hari yang sama, sekitar pukul 2 siang.

Di kampung Meral, yang terdiri dari sekitar tiga puluh rumah dengan populasi 120 jiwa, rombongan kemudian melemparkan jangkar.

Tak lama setelah itu, kepala kampung di sini, seorang laki-laki bernama Rachmat, datang ke kapal dengan beberapa pengikutnya untuk memberi hormat kepada Radja Abdullah.

Di kampung Meral ini, Rachmat dikenal dengan gelar “batin”.

Tuan Van Den Berg dan Radja Abdullah sempat berdiskusi sebentar setelah kedatangan rombongan Rachmat. Mereka kemudian memutuskan untuk mengunjungi kediaman sang Batin di pesisir pantai kampung itu.

Kepada Rachmat, tuan Van Den Berg dan Radja Abdullah menyampaikan bahwa maksud kedatangan mereka dalam rangka mengumpulkan informasi tentang bijih timah yang ada di pulau Karimun. Rachmat kemudian menjanjikan untuk mengumpulkan para penduduk yang dapat memberikan informasi tentang itu.

Tidak lama kemudian, sekitar lima puluh orang Melayu berkumpul di sekitar para pelayar. Semua mengklaim telah mengumpulkan bijih timah di pulau itu sebelumnya.

Dengan sangat siap dan tanpa ragu-ragu, mereka memberikan nama-nama tempat di mana, menurut mereka, bijih timah ditemukan.

Tuan Van Den Berg mencatat sedikitnya empat belas nama tempat dari mereka: Soengi (sungai) Limou, Petani, Soengi Kalawa di dua tempat berbeda, Plambong, Giam, Soengi Rama, Lemang-soedoe, Pasir-pandjang di dua tempat berbeda, Pedas, Ponka, Soengi Baram, dan Boekit Melintang.

Orang Melayu memberikan berbagai detail, yang menunjukkan kekayaan luar biasa bijih timah di semua tempat itu dan membangkitkan keinginan rombongan ini untuk segera memverifikasi kebenaran laporan itu melalui penyelidikan sendiri.

Setelah berjalan-jalan di kampung, yang tidak berbeda dengan kampung Melayu lainnya, mereka kembali ke kapal dan mempersiapkan segalanya untuk berangkat ke tempat yang ditunjukkan oleh orang Melayu.

Eksplorasi Wilayah

Pukul 9 malam, mereka berangkat dan mulai mengayuh ke timur menuju Tanjung Meral. Setelah mencapai tanjung itu, mereka mengangkat layar dan berlayar ke timur laut, dengan pulau di sebelah barat mereka.

Angin bertiup kencang dari barat daya, sehingga perjalanan sangat lancar, meskipun cuaca tidak terlalu baik karena hujan yang terus-menerus.

Mereka melanjutkan perjalanan sepanjang malam, sampai pukul 2 pagi, rombongan akhirnya melemparkan jangkar di teluk di depan Soengi Limou, tempat pertama yang disebutkan oleh orang Melayu dari Meral.

Tuan Van Den Berg melihat tiga perahu lain di dekat kapal mereka. Ketika ia bertanya kepada Radja Abdullah tentang identitas warga yang baru tiba tersebut, jawabannya adalah bahwa mereka datang dari Meral atas perintahnya, membawa beberapa orang Melayu yang telah memberikan informasi tentang bijih timah, untuk memberikan petunjuk lebih lanjut dan bertindak sebagai pemandu.


PADA pukul 6 pagi, rombongan mendarat di sebuah dam pasir di muara Soengi Limou. Dari sana, ada sebuah jalan atau jalur kaki membentang di bawah pohon-pohon tinggi, melintasi tanah yang lebih atau kurang berawa, sampai ke kaki gunung.

Semakin mereka mendekati gunung, tanah menjadi semakin keras dan lebih stabil. Setelah sekitar setengah jam, rombongan akhirnya mencapai sungai yang sama, mengalir berkelit melalui lembah.

Dasar sungai di bagian atas berpasir. Kemudian dipenuhi dengan batu-batu kecil, dan berisi banyak batu besar yang mengagumkan. Di sepanjang dasar sungai, rombongan menemukan bijih timah hampir di mana-mana. Kadang-kadang dalam jumlah kecil, kadang-kadang dalam jumlah besar.

Orang Melayu yang menemani mereka mengumpulkan sejumlah besar bijih timah. Mereka mengambil pasir dari bawah batu-batu, mencucinya di sungai, dan mendapatkan bijih timah.

Tuan Van Den Berg kemudiam meminta warga mencuci tiga tempurung kelapa penuh pasir, dan ia mengambil bijih timah yang diperoleh sebagai contoh.

Di dekat sungai, rombongan juga menemukan dua lubang besar yang telah digali di masa lalu. Di sana juga ditemukan bijih timah.

Kemudian, Tuan Van Den Berg dan rombongan meninggalkan Soengi Limou. Mereka berjalan melalui jalur tanah. Setelah sekitar 10 menit, rombongan akhirnua mencapai Soengi Poenka (Sungai Pongkar, pen.) yakni sebuah sungai kecil yang juga menjadi objek penelitian.

Di Soengi Poenka, rombongan menemukan bahwa sungai kecil itu juga mengandung bijih timah di sepanjang dasarnya. Jenisnya sama dengan yang ditemukan di Soengi Limou.

Dari tiga tempurung kelapa pasir, mereka mendapatkan sejumlah bijih timah, dan mengambil contoh pasir yang tercampur bijih timah dari lubang yang digali secara horizontal dengan dasar sungai.

Pukul 11 pagi, mereka meninggalkan Soengi Poenka dan kembali ke kapal pada pukul 12 siang.


SEMENTARA rombongan beristirahat dari perjalanan yang melelahkan, kapal mereka berlayar ke Petani, yang hanya berjarak 4 jam dari Soengi Poenka.

Pada pukul 2 siang, rombongan mendarat lagi. Di sini, ada dua sungai kecil, yakni Soengi Petani dan Soengi Giam yang mengalir ke laut. Aliran keduanya berdekatan satu sama lain.

Di sini, rombongan pertama-tama menyelidiki Soengi Petani. Tidak lebih dari 10 menit dari pantai, mereka menemukan beberapa lubang yang tampaknya merupakan sisa-sisa penggalian lama.

Semakin mereka naik ke arah hulu sungai, mereka menemukan bahwa sungai itu memiliki karakter dan penampilan yang sama dengan yang sebelumnya. Dasar sungai dipenuhi dengan bijih timah.

Tuan Van Den Berg kemudian meminta Rombongan untuk menggali lubang secara horizontal dengan dasar sungai. Pada kedalaman 1 kaki, mereka menemukan bahwa tanah di sana juga mengandung banyak bijih timah. Mereka kemudian mencuci tiga tempurung kelapa pasir dan mengumpulkan bijih timah yang murni.

Kemudian, Tuan Van Den Berg dan rombongan meninggalkan Soengi Petani untuk mendaki gunung yang sangat curam, namanya Boekit Bedjandjang hingga ketinggian sekitar 150 kaki.

Setelah mendaki dan menuruni selama setengah jam, mereka mencapai Soengi Giam, yang sangat mirip dengan Petani serta mengandung banyak bijih timah juga.

Orang Melayu yang bertindak sebagai pemandu menunjukkan kepada Tuan Van Den Berg sebuah lembah yang indah, yang membentang ke kedua tepi sungai Petani dan Giam. Di beberapa tempat ditumbuhi tanaman benkoeang.

Mereka meyakinkan bahwa lembah itu mengandung banyak bijih timah, dan bahwa orang hanya perlu menggali sampai kedalaman 1 depa (4-6 kaki) untuk mencapai lapisan bijih timah.

Tuan Van Den Berg kemudian meminta mereka menggali lubang di sana untuk menguji kebenaran pernyataan mereka. Mereka segera mulai bekerja. Tetapi ketika mereka sudah agak maju, air mulai mengalir ke dalam lubang dalam jumlah besar.

Mereka tidak memiliki alat untuk memompa air dengan cepat, sehingga pasir di sisi lubang terus runtuh, dan mereka terpaksa menghentikan percobaan tanpa hasil apa pun.

Sayangnya, para pelayar tidak dilengkapi dengan alat-alat yang diperlukan, seperti bor yang digunakan di Malaka untuk menyelidiki tanah sampai kedalaman yang cukup, dan pompa kecil untuk mengeluarkan air dari lubang yang digali.

Namun, Tuan Van Den Berg berhasil mencapai tujuannya dalam perjalanan ini meskipun tanpa dukungan pemerintah kolonial: Karimon kaya bijih timah.

Ia menemukan bahwa tanah di sepanjang Soengi Giam sangat kaya akan bijih timah.


PADA Pukul 5:30 sore, mereka memulai perjalanan kembali ke kapal, yang mereka capai setengah jam kemudian. Mereka kemudian berlayar selama setengah jam ke teluk Soengi Plambong dan melemparkan jangkar di sana untuk menghabiskan malam.

Keesokan paginya, 27 Juli 1854, rombongan melanjutkan kegiatan penelitian bijih timah di wilayah ini.

Pada pukul 6 pagi, mereka mendarat untuk menyelidiki Soengi Plambong.

Di muara sungai, Tuan Van Den Berg meminta mereka mengambil satu piring pasir, dan ketika dia mencucinya, dia menemukan sekitar 20 butir bijih timah.

Orang Melayu meyakinkan bahwa di sini, pada kedalaman 6 kaki, bijih timah ditemukan dalam jumlah besar. Tetapi dia tidak bisa memverifikasinya karena kesulitan menggali lubang di tanah yang berpasir. Pada jarak 10 menit lebih jauh ke gunung, pasir menjadi lebih kasar dan tercampur dengan batu-batu kecil.

Di sana, pada kedalaman 1,5 kaki, mereka menggali lubang di dasar sungai dan menemukan tanah liat putih dengan pasir kasar, yang tercampur dengan banyak bijih timah.

Mereka kemudian mengambil contoh pasir dan bijih timah yang diperoleh dari tiga tempurung kelapa pasir.

(*)

Bersambung

KAITAN:historyKarimunRaja AbdullahRhioRiauRiouwsejarah
Sebarkan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Copy Link
Artikel Sebelumnya Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ikut Berkontribusi sebagai Volunteer

Kami adalah bagian dari komunitas yang mengembangkan literasi digital, media monitoring dan penyelamatan lingkungan hidup.
Ikut Bergabung

UPDATE

Karimon Eilanden; Perjalanan Van Den Berg dan Raja Abdullah, 1854
History
3 April 2026
34 x dilihat
Syair ‘Sakit’ Raja Ali Haji, 1852
History
19 Januari 2026
218 x dilihat
“Kepulauan Batam di Awal Abad 20”
History
4 Januari 2026
236 x dilihat
“Teluk Boolang di pulau Batam”
Impresi
26 Desember 2025
326 x dilihat
“Menavigasi Laut Nongsa ; Jejak Raja Issa di 1835”
History
16 Desember 2025
439 x dilihat

POPULER

Humaniora

Selat Panjang ; “Tanah Jantan”

Oleh Bintoro Suryo
3.1k x dilihat

Ragam Tanaman di Kebun Raya Batam

Oleh Bintoro Suryo
2.5k x dilihat

Menelusur Nongsa Masa Lalu

Oleh Bintoro Suryo
2.4k x dilihat

Kapan Pemerintahan Kota Batam Berdiri?

Oleh Bintoro Suryo
2.3k x dilihat

Ikuti Kami:

Akses Cepat

  • YLGI
  • GoWest.ID
  • Sultan Yohana
  • Beplus Indonesia

Fitur

  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi

Catatan Kuki

Situs kami menggunakan third parties cookies untuk meningkatkan performa konten dan artikel yang diterbitkan

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?